Sunday, January 17, 2016

Laporan Geografi Budaya : Observasi Kebudayaan dan Adat TANA TORAJA

KATA PENGANTAR
            Syukur alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya lah sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan dari hasil praktek lapang "GEOGRAFI BUDAYA" yang dilaksanakan di Kabupaten Tana Toraja.
            Mulai dari persiapan dan proses praktek lapang hingga laporan ini, penulis mendapat hambatan, tapi berkat bantuan dan saran dari berbagai pihak sehngga hambatan tersebut dapat teratasi. Dalam penyusunan laporan ini tak lupa penulis ucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Dosen penanggung jawab mata kuliah ini dan beberapa asisten lapangan yang senantiasa membantu.
            Saya menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran guna kesempurnaan dan manfaat dari laporan ini.



Makassar,     Desember 2015

                       
Penulis            







DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .   1
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    2
BAB I   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    3
B.     Tujuan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
C.     Manfaat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . .    5
BAB II  KAJIAN TEORI
A.    Asal - Usul . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    6
B.     Sejarah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    7
C.      Ciri Khas Suku Toraja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    7
D.    Kesenian san Kebudayaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  7
BAB III METODE PELAKSANAAN PRAKTEK LAPANG
A.    Pemilihan Daerah Praktikum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  11
B.     Pengumpulan dan Pengamatan Data di Lapangan . . . . . . . . . 11
C.     Waktu Pelaksaan Praktikum. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . . . .     11
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Gambaran Umum Lokasi Praktek. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .      12
B.     Hasil . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    12
C.     Pembahasan . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . .  .   27
BAB V PENUTUP
A.    Kesimpulan . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  30
B.     Saran . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    30
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULIAN
  1. Latar Belakang
            Indonesia terkenal dengan keragaman budayanya. Manusia dan kebudayaan adalah satu hal yang tidak bisa di pisahkan karena di mana manusia itu hidup dan menetap pasti manusia akan hidup sesuai dengan kebudayaan yang ada di daerah yang di tinggalinya.
            Manusia merupakan makhluk sosial yang berinteraksi satu sama lain dan melakukan suatu kebiasaan-kebiasaan yang terus mereka kembangankan dan  kebiasaan-kebiasaan tersebut akan menjadi kebudayaan. Setiap manusia juga memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, itu disebabkan mereka memiliki pergaulan sendiri di wilayahnya sehingga manusia di manapun memiliki kebudayaan yang berbeda masing-masing. Perbedaan kebudayaan disebabkan karna perbedaan yang dimiliki seperti faktor Lingkungan, faktor alam, manusia itu sendiri dan berbagai faktor lainnya yang menimbulkan Keberagaman budaya tersebut Seiring dengan berkembangnya teknlogi informasi dan komunikasi yang masuk ke Indonesia diharapkan dapat dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap kebudayaan masing – masing daerah, karena kebudayaan merupakan jembatan yang menghubungkan dengan manusia yang lain.
  1. TUJUAN PRAKTEk  LAPANG
1.       Tujuan Intruksional Umum
a)       Memiliki pengetahuan dan sikap positif pada budaya nasional dan suku budaya bangsa yang menopang pertumbuhan budaya nasional.
b)      Memahami peranan kebudayaan dalam membina persatuan dan kesatuan sikap melalui sikap menghargai dan mencintai budaya suku bangsanya sendiri.
2.       Tujuan Intruksional Khusus
a)      Dengan melakukan observasi tentang posisi permukiman penduduk di Toraja, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan hubungan kondisi geografis dengan distribusi permukiman di Toraja.
b)      Dengan melakukan wawancara dengan tokoh atau budayawan masyarakat Toraja mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan wujud kebudayaan material dan kebudayaan non material Suku Toraja dalam kaitannya dengan keadaan geografis daerah itu.
c)      Dengan mengamati tempat-tempat yang memiliki bentuk-bentuk kebudayaan dan nilai budaya Suku Toraja, para mahasiswa diharapkan dapat:
d)     Membedakan daerah itu dengan kebudayaan daerah lain serta dapat menarik garis batas dipeta daerah-daerah kebudayaan itu.
2)      Menjelaskan bahwa kebudayaan Toraja lebih tua dari kebudayaan daerah sekitarnya.
Dengan menghadiri dan mencermati upacara pemakaman mayat, mahasiswa dapat menjelaskan tentang lapisan kebudayaan toraja baik secara vertical maupun secara horizontal.
e)      Dengan memeperhatiak nlingkungan alam, perilaku dan perlakuan masyarakat Suku Toraja para mahasiswa diharapkan dapat menjelaskanpengaruh lingkungan alam terhadap:
1)       Perkembangan kebudayaan suku Toraja
2)       Perilaku masyrakat Toraja
f)       Dengan mengunjungi beberapa toko yang menjual hasil kerajinan atau tempat yang memproduksi kerajinan rakyat mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan bahwa:
1)      Perkembangan kebudayaan rakyat itu turut dipengaruhi oloeh lingkungan alam
2)      Masyarakat Toraja adalah masyrakat yang terbuka dari pengaruh kebudayaan lain
3)      Dengan mendatangi pasar hewan Rantepao dan membaur di dalamnya mahasiswa diharapkan dapat mengidentifikasi aspek ekonomi dan aspek budaya yang khusus dari pasar hewan itu.
4)      Dengan mendiskusikan hasil observasi,wawancara, pengamatan dari semua obyek yang dikunjungi, mahasiswa diharapkan dapat membuat laporan secar tertulis dengan rapi, baik kelompok maupun kelas.
C.    Manfaat Praktek Lapangan
                     Adapun manfaat dari penelitian ini antara lain :
1.      Untuk mengetahui hubungan kondisi geografis dengan distribusi permukiman di Toraja.
2.      Untuk mengetahui menjelaskan wujud kebudayaan material dan kebudayaan non material Suku Toraja dalam kaitannya dengan keadaan geografis daerahnya
3.      Untuk Mengetahui bentuk-bentuk kebudayaan dan nilai budaya Suku Toraja
4.      Untuk mengetahui perkembangan budaya suku toraja dan Prilaku masyarakat Suku Toraja.
5.      Untuk mengetahui keterbukaan masyarakat toraja Terhadap kebudayaan lain yang masuk dari Luar Wilayah Toraja
6.      Untuk mengetahui Jenis mata pencaharian Serta penghasilan dari masyarakat suku Toraja










BAB II
KAJIAN TEORI
            Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhi yang berarti akal. Maka budaya adalah hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional/lokal dan kebudayaan asing yang telah ada di Indonesia. Budaya nasional adalah budaya yang benar-benar berasal dari Indonesia sendiri dan lebih dikenal dengan budaya timur. Sedangkan budaya barat adalah budaya yang berasal dari luar Negara Indonesia. Budaya nasional di Indonesia sangat beragam dan dibutuhkan adanya toleransi antar masyarakat.
            Tana Toraja merupakan salah satu daya tarik wisata Indonesia, dihuni oleh Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup AUSTRONESIA yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.
  1. Asal-Usul
                Menurut legenda, nenek moyang orang Toraja berasal dari Hindia Belakang (Siam). Mereka ber-imigrasi ke daerah selatan untuk mencari daerah baru. Mereka menggunakan kapal yang menyerupai rumah adat orang Toraja sekarang ini. Asal-usul tentang pengertian Toraja, ada dua versi. Versi pertama mengatakan bahwa kata Toraja berasal dari kata “to” yang artinya orang dan kata “raja” yang artinya raja. Jadi Toraja artinya orang-orang keturunan raja. Versi lain mengatakan bahwa Toraja berasal dari dua kata yaitu “to” yang artinya orang dan “ri aja” (bahasa Bugis) yang artinya orang-orang gunung. Jadi Toraja artinya orang-orang gunung. Kedua versi tersebut memiliki alasan yang berbeda-beda dan masuk akal.


  1. Sejarah
1.      Tahun 1926 Tana Toraja sebagai Onder Afdeeling Makale-Rantepao dibawah Self bestur Luwu.
2.      Tahun 1946 Tana Toraja terpisah menjadi Swaraja yang berdiri berdasarkan Besluit Lanschap Nomor 105 tanggal 8 Oktober 1946.
3.      Tahun 1957 berubah menjadi Kabupaten Dati II Tana Toraja berdasarkan UU Darurat Nomor 3 tahun 1957.
4.      UU Nomor 22 tahun 1999 Kabupaten Dati II Tana Toraja berubah menjadi Kabupaten Tana Toraja.
     Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendereng dan dari Luwu. Orang Sidendereng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti “orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asalnya To= Tau (orang), Raya= dari kata Maraya (besar), artinya orang-orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal dengan nama Tana Toraja.
  1. Ciri Khas Suku Toraja
                Salah satu ciri khas suku Toraja adalah tempat pemakamannya. Rante, yaitu tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah menhir/megalit, yang dalam bahasa Toraja disebut Simbuang batu. 102 bilah batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang, dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu.
  1. Kesenian dan Kebudayaan
1.      Adat Perkawinan Daerah Sulawesi Selatan
a)      Melamar
            Dalam melamar ada beberapa tahapan yang harus dijalankan, antara lain dengan cara pendekatan oleh pihak pria kepada pihak wanita, seperti menanyakan apa sang gadis masih belum ada ikatan dengan pria lain dan sebagainya. Bilamana sang gadis masih belum ada ikatan, pihak keluarga pria mengirim beberapa utusan yang terdiri dari keluarga terdekat sang pria. Tugas mereka adalah untuk melamar sang gadis secara resmi yang disebut massuro. Bila lamaran diterima oleh pihak wanita, maka kedua pihak lalu berembuk untuk menetapkan besarnya mas kawin atau sompa, juga biaya perkawinan dan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan.
b)      Persiapan dan Upacara Pernikahan
            Beberapa hari menjelang pernikahan, keluarga mengadakan mappaci, yaitu malam berbedak, bersolek, dan memerahi kuku atau berinai. Pada hari yang telah ditetapkan, kedua mempelai melakukan akad nikah menurut agama Islam yang dilakukan oleh penghulu, kemudian kedua mempelai melakukan upacara adat, yaitu mempelai pria menyentuh salah satu anggota badan mempelai wanita, seperti ibu jari atau tengkuk. Itu berarti bahwa mempelai wanita telah syah menjadi mempelai pria. Setelah itu, keluarga mempersandingkan kedua pengantin di pelaminan, disaksikan oleh para tamu. Seluruh upacara perkawinan yang diramaikan dengan pesta ini berlangsung di rumah mempelai wanita dan upacara ini dinamakan marola.
c)      Pakaian Pengantin
            Pakaian pengantin pria dari Bugis-Makasar berupa baju jas model tertutup yang disebut baju bella dada, kain sarung songket yang disebut rope. Di pinggang bagian depan terselip sebuah keris pasang timpo (keris yang terbungkus emas separuhnya) atau keris tataroppeng (keris yang terbungkus emas seluruhnya), sedangkan di kepala terdapat hiasan kepala yang disebut sigara.
Pengantin wanita memakai baju bodo, kain sarung songket atau rope, dan selendang di bahu. Sanggul pengantin wanita berhiaskan kembang goyang dan perhiasan lainnya berupa kalung bersusun, sepasang bassa atau gelang panjang bersusun, dan anting-anting.
2.      Lagu-Lagu khas Toraja
a)      Siulu’
b)      Lembang Sura’
c)      Marendeng Marampa’
d)     Siulu’ Umba Muola
e)      Passukaranku
f)       Katuoan Mala’bi’
g)      Susi Angin Mamiri
h)      Kelalambunmi Allo
i)        Tontong Kukilalai
  1. Obyek Wisata di Tana Toraja
1.      Ke'te' Kesu
2.      Londa
3.      Batu Tumonga, DLL.
  1. Potensi Alam Toraja
            Lampako Mampie adalah sebuah taman suaka margasatwa yang berada di Pulau Sulawesi dengan luas hampir 2000 ha. Suaka margasatwa ini tepatnya berada di bagian barat Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi pada kabupaten Polewali Mamasa. Kondisi lapangan dari taman suka margasatwa tersebut terdiri atas daerah wet land yang terdiri dari daerah berawa-rawa dengan secondary forest seluas 300 ha swamp forest dan beberapa daerah isolasi mangrove. Daerah suaka margasatwa ini merupakan daerah yang sangat penting bagi tumbuhan dan hewan. Hewan utamanya adalah burung Mandar Sulawesi atau Ballidae atau Celebes Rails (Aramidopsis plateni) yang merupakan burung endemis yang hidup pada kawasan tersebut. Disamping itu, kawasan ini juga merupakan daerah untuk berkembang biak beberapa hewan lainnya, bahkan menjadi tempat persinggahan burung-burung yang bermigrasi.
            Dengan melihat dari berbagai pengertian ekowisata, potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut, pengelolaan kawasan suaka yang mulai ditangani daerah dan keinginan masyarakat lokal untuk dapat membangun sebuah kawasan yang berasaskan lingkungan hidup, sehingga timbulah keinginan masyarakat daerah tersebut untuk dapat mengelola langsung kawasan suaka ini dengan tetap memperhatikan alam, disamping mereka juga mendapatkan insentif secara ekonomis untuk kelangsungan anak.






















BAB III
METODE PELAKSANAANPRAKTEK LAPANG
A.    Pemilihan Daerah Praktikum
Tana Toraja merupakan sebuah kawasan wisata yang terkenal dengan kebudayaannya, kebudayaan yang paling terkenal di daerah ini ialah acara pemakaman, tentunya acara pemakaman yang dilakukan didaerah ini berbeda dengan acara kematian yang dilakukan oleh masyarakat umum yang ada di suatu daerah.
Sesuatu yang terlihat jelas dari perbedaan acara pemakaman Tana Toraja dengan daerah lain yaitu dari segi biaya yang dipakai dalam acara ini, dimana masyarakat Tana Toraja mengeluarkan uang ratusan juta rupiah untuk biaya pemakaman masyarakat Tana Toraja. Dengan adanya perbedaaan dan kebudayaan khas tersendiri yang dimiliki oleh Tana Toraja maka lokasi ini sangat tepat untuk melakukan sebuah praktek lapang dengan maksud mengetahui kebudayaan-kebudayaan yang ada didaerah ini.
B.     Pengumpulan dan Pengamatan Data di Lapangan
Tekhnik pengumpulan data yaitu dengan mendatangi objek-objek wisata yang ada kemudian melakukan wawancara dengan masyarakat umum yang berdiam dilokasi tersebut, dan pemberian arahan atau gambaran lokasi dari dosen dan asisten pembimbing.
C.    Waktu Pelakasanaan Praktikum
Adapun waktu pelaksanaan praktikum ini, yaitu pada tanggal 18-20 Desember 2015







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
  1. Gambaran Umum Lokasi Praktikum
            Kabupaten Tana Toraja merupakan salah satu dari 23 kabupaten yang ada di propinsi Sulawesi Selatan yang terletak diantara 2º20´ LS sampai 3º30´ LS dan 119º30´ BT sampai 120º10´ BT. "Ibukota" Tator yakni kota kecil Rantepao adalah kota yang dingin dan nyaman, dibelah oleh satu sungai terbesar di Sulsel yakni sungai Saddang, sungai inilah yang memberikan tenaga pembangkit listrik untuk menyalakan seluruh Makasar. Secara Sosio linguistik, bahasa Toraja disebut bahasa Tae oleh Van Der Venn. Ahli bahasa lain seperti Adriani dan Kruyt menyebutnya sebagai bahasa  Sa'dan. Bahasa ini terdiri dari beberapa dialek, seperti dialek Tallulembangna (Makale), dialek Kesu (Rantepao), dialek Mappapana (Toraja Barat).
Batas-batas Kabupaten Tana Toraja adalah:
Sebelah Utara  : Kabupaten Toraja Utara
Sebelah Timur             : Kabupaten Luwu     
Sebelah Selatan           : Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang
Sebelah Barat  : Kabupaten Polmas
            Luas wilayah Kabupaten Tana Toraja tercatat 3.205,77 km² atau sekitar 5% dari luas propinsi Sulawesi Selatan, yang meliputi 15 (lima belas) kecamatan. Jumlah penduduk pada tahun 2001 berjumlah 404.689 jiwa yang terdiri dari 209.900 jiwa laki-laki dan 199.789 jiwa perempuan dengan kepadatan rata-rata penduduk 126 jiwa/km² dan laju pertumbuhan penduduk rata-rata berkisar 2,68% pertahun.
  1. Hasil
Hasil dari praktek lapang :
1.      Marante Tondon
      Pada mulanya Desa Tondon lasim disebut Mesa' Ba'bana Tondon Apa' Tepona Padang, yaitu Tondok Batu, Siba'ta, Kondo' dan Langi'. Sangpulo dua Karopi'na itulah Desa Tondon, yang dipimpin oleh dua pemangku adat yang lazim disebut Toparenge', yaitu Marante dan Barang Bua'. Fungsi Toparenge' disini adalah memimpin segala kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat baik itu upacara pesta syukur (Rambu Tuka') maupun upacara pesta pemakaman (Rambu Solo'), juga penentu kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam masyarakat. Seiring dengan kemajuan pembangunan dan terpilihnya Tana Toraja sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia.
      Sejak itu juga Marante terpilih sebagai salah satu obyek wisata yang ada di Tana Toraja, karena Marante mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu terletak pada jalan poros dari Makassar ke Palopo dan letaknya tidak jauh dari kota Rantepao yang jaraknya kira-kira 4 km. Disamping itu Marante mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang datang berkunjung ke Marante, baik itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara/domestik.
      Obyek wisata Marante memiliki banyak daya tarik peninggalan-peninggalan kuno yaitu berupa :
1.      Rumah adat (rumah tongkonan) 
2.      Patung-patung (tau-tau) 
3.      Erong 
4.      Kuburan batu/liang pahat 
5.      Patane (kuburan kayu) 
6.      Dan masih banyak lagi pemandangan yang bisa memikat hati wisatawan.






                        1.1 Gambar tau-tau yang ada di dinding batu di Marante
2.      Pasar Bolu
      Bagi masyarakat penghuni Tana Toraja, hewan kerbau dan juga babi memiliki arti penting dalam kehidupan mereka. Hewan kerbau adalah syarat mutlak yang mesti dipenuhi dalam upacara-upacara adat, terutama pemakaman salah seorang anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Masyarakat Toraja percaya bahwa hewan kerbau menjadi media bagi roh sang jenazah agar cepat sampai ke alam akherat. Kedudukan dan posisi keluarga yang tengah berduka dapat diketahui dari banyaknya hewan kerbau yang di sembelih pada upacara tersebut. Sebuah refleksi keluhuran budaya dan ilmu pengetahuan yang telah di wariskan secara turun temurun oleh leluhur suku Toraja.
      Golongan bangsawan Toraja mampu menyembelih 25 sampai 100 ekor kerbau dalam suatu upacara pemakaman. Sementara untuk golongan menengah, 8 ekor kerbau dan 50 babi merupakan ketentuan wajib yang mesti di penuhi dalam pelaksanaan ‘Rambu Solo’, sebutan lain bagi upacara pemakaman jenazah masyarakat Toraja.
      Di Rantepao, terdapat pasar tempat terjadinya transaksi jual beli kerbau dan babi. Namanya Pasar Bolu. Untuk mencapainya hanya memerlukan waktu tak sampai 15 menit dari Rantepao, ibukota kabupaten Toraja Utara. Lokasi persis nya ada di Jl. Poros yang menghubungkan kota Rantepao dan Palopo di wilayah desa Kolla, kecamatan Tondun.
      Uniknya, pasar ini hanya buka satu kali dalam rentang waktu enam hari mengikuti ‘pasa’ tedong’, demikian masyarakat Toraja menyebut hari dibuka nya pasar ini. ‘Pasa’ berarti pasar dan ‘tedong’ berarti kerbau. Sebagian besar hewan yang diperjual belikan di pasar yang sebagian besar area nya terdiri dari padang rumput ini pun hanya lah kerbau dan babi.
1.2. Gambar salah satu Tedong Bunga yang di pasarkan
      Upacara adat yang kerap kali di selenggarakan secara serentak di berbagai pelosok wilayah Toraja menyebabkan pasar Bolu selalu ramai oleh pembeli. Dalam sehari, transaksi jual beli kerbau di pasar Bolu bisa mencapai milyaran rupiah. Lima ratus sampai tujuh ratus ekor bisa terjual dalam sehari. Ukuran tubuh, warna bulu beserta motifnya adalah faktor-faktor yang mempengaruhi harga kerbau yang di tawarkan. Kerbau hitam berukuran kecil, ditawarkan seharga 5 juta rupiah. Kerbau berwarna hitam (Tedong Pu’du) yang ukuran nya lebih besar harga nya sekitar 10-15 juta rupiah. Meski ukuran nya sama besar namun bila warna bulu kerbau belang (putih) dengan motif tertentu di seluruh permukaan badan nya maka seekor kerbau bisa di tawarkan dengan harga 60-250 juta rupiah.
      Kerbau jenis terakhir ini sering disebut ‘Tedong Bunga’ atau juga ‘Tedong Bunga Saleko’. Ada juga motif-motif warna bulu kerbau tertentu yang lain berdasarkan letak warna di bagian tubuh kerbau seperti ‘Tedong Bonga Sori’, ‘Tedong Todi’, dan ‘Tedong Sambao’. Semuanya memiliki ragam harga yang berbeda. Tawar menawar dan penyerahan sejumlah uang seharga kerbau yang telah dibeli juga terjadi di Pasar Bolu. Cukup seru menikmatinya. Bila kerbau di hari itu belum laku terjual, maka pedagang kerbau akan menawarkan nya di lain waktu. Bagi para pendatang dan wisatawan ini merupakan pemandangan tersendiri yang tak akan di temukan di tempat lain.
      Berjalan-jalan di sela-sela barisan ratusan kerbau yang berjejer juga merupakan pengalaman yang menyenangkan. Namun kewaspadaan harus tetap dijaga mengingat tanduk-tanduk kerbau dewasa cukup runcing untuk bisa melukai anggota badan atau merobek pakaian yang dikenakan. Para penjual nya berdiri tak jauh dari kerbau-kerbau mereka, dengan mengenakan sarung mereka menawarkan kerbau-kerbau dagangan mereka sambil sesekali menerangkan kelebihan hewan-hewan tersebut dibandingkan dengan yang lain.
      Hewan Babi juga di tawarkan di pasar rakyat yang luasnya kira-kira 2,5 Ha ini. Di salah satu sudut pasar, tepatnya di bagian dalam, terdapat pula babi-babi yang siap dijual baik dalam keadaan hidup ataupun sudah mati. Ukuran badan dan umur babi pun berbeda-beda. Pembeli yang berminat tinggal memilih, menawar dan membawa pulang. Kisaran harga nya adalah 1,5-2 juta rupiah. Untuk hewan yang satu ini pembeli kerap kali menggotong sendiri babinya sampai ke rumah. Bilah-bilah bambu sering digunakan untuk menggotongnya.
3.      Tongkonan Pallawa'
      Pallawa adalah salah satu desa Tana Toraja yang terkenal akan barisan Tongkanan (rumah tradisional Toraja) yang masih terjaga kelestariannya walaupun sudah berdiri selama ratusan tahun. Jajaran Tongkanan yang nampak gagah berhadapan dengan jajaran alang atau lumbung padi yang sederhana, membuat aura etnik desa ini menjadi sangat kental.
                                                                        1.3 Gambar                   pemandangan dari                             pinggir gunung Sesean.



4.      Batu Tumonga
      Tradisi budaya yang menarik serta pemandangan alam yang mempesona seolah sudah terlebur menjadi satu paket yang bisa di nikmati bila berkunjung ke Tana Toraja. Di Toraja, kemanapun kita pergi untuk menikmati budaya masyarakat setempat, hampir pasti panorama alam yang cantik akan selalu menjadi bagian dari perjalanan. Demikian pula sebaliknya, bila kita mengunjungi suatu tempat unuk menikmati pesona alam nya maka tradisi warisan leluhur Toraja yang umurnya sudah ratusan tahun selalu pula bisa di saksikan. Bila pilihan nya adalah menikmati sensasi elok yang di miliki oleh alam Toraja, sebuah wilayah di kaki Gunung Sasean bisa di datangi. Daerahnya begitu hening namun asri, jauh dari hiruk pikuk kepadatan kota.




     




1.4 Gambar pemandangan dari pinggir gunung Sesean.
      Nama lokasinya adalah ‘Batutumonga’. Destinasi wisata alam yang persisnya menjadi bagian dari area Sa’dan ini berada di Toraja bagian utara. Perjalanan bisa di mulai dari kota Rantepao yang merupakan ibukota kabupaten Tana Toraja ke arah Sa’dan yang berjarak sekitar 20 km-an.
      Rute Rantepao-Batutumonga melewati tempat-tempat lain yang juga bisa di singgahi seperti Bori, Pangli, Tinimbayo dan Deri. Sebuah pertigaan di Bori akan menjadi penanda untuk merubah arah perjalanan, belokan ke kirinya akan mengarah ke Batutumonga. Dari sini jalanan akan menanjak ke atas hingga di wilayah Batutumonga. Sebuah wilayah yang bernama Tinimbayo akan terlewati, yang juga berarti Batutumonga berada tak jauh lagi. Di wilayah yang cocok digunakan sebagai tempat peristirahatan perjalanan ini bisa ditemui banyak penjual makanan dan minuman. Panorama dataran tinggi sebenarnya sudah bisa terasa di Tinimbayo. Beberapa gazebo yang ada di Tinimbayo bisa digunakan sebagai tempat bercengkrama sambil menikmati kesegaran udara pegunungan. Rerimbunan pohon yang tumbuh lebat di wilayah ini menjadikan sinar matahari tidak terlalu terasa menembus kulit, menambah suasana menjadi lebih nyaman dan sejuk. Pepohonan yang segar menghijau dan tumbuh subur bisa di saksikan dari ketinggian. Tongkonan dan ‘Alang’ (lumbung padi) juga bisa terlihat nun jauh di bawah nya.
      Hamparan sawah yang mengelilingi bangunan-bangunan tradisional tersebut membuat sensasi alami menjadi lebih lengkap dan indah. Sebuah bonus yang sempurna dari perjalanan menuju ke Batutumonga. Meski berada di kaki Gunung Sasean, Batutumonga masih berada di dataran tinggi, karena nya kabut akan banyak terlihat di pagi hari. Awan pun kerap menutupi daerah ini, tak heran bila banyak wisatawan menyebut Batutumonga sebuah lokasi yang berada di atas awan. Wilayah yang sunyi dan tenang ini memiliki beberapa penginapan yang bisa di jadikan tempat bermalam. Namun jangan berharap banyak untuk bisa mendapatkan derap aktivitas kota di malam hari karena Batutumonga berada jauh dari pusat kota.
      Meski tak ada tempat duduk atau Gazebo, dari jalan ini bisa dinikmati bentangan sawah dan batu-batu makam yang berpadu dengan kontur bumi yang ‘terpahat’ secara alami. Warna hijau segar menjadi warna dominan yang memanjakan penglihatan siapa saja yang menikmatinya.
      Hilir mudik warga Toraja yang sedang memberi pakan ternak-ternak mereka juga bisa dinikmati, beberapa diantaranya juga bisa terlihat sedang bekerja di petak-petak sawah berundak yang menghampar bak permadani. Sajian kopi hangat khas Toraja pun bisa dipilih untuk di jadikan teman menikmati suasana.
5.      Kalimbuang Bori' Pusat Purbakala Kompleks Megalit
      Siapa tak kenal situs megalitik Stone Edge di daratan Eropa? Menakjubkan bukan? jangan salah, Indonesia juga memiliki situs serupa Stone Edge dan tak kalah menakjubkan.
      Satu di antaranya yakni situs megalitik Bori Parinding di Kalimbuang Bori Kec. Sesean, Kab. Toraja Utara, Sulsel. Situs megalitik tersebut berjarak sekitar 328 KM dari Kota Makassar.
      Bori adalah tempat di mana pengunjung akan menemukan ratusan megalith kuno yang digunakan penduduk setempat untuk mengadakan upacara pemakaman. Ada 114 megalith di sini dan megalith tertinggi tercatat setinggi sekitar 7 meter.
      Untuk menikmati keindahan kebudayaan purba tersebut, wisatawan cukup membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000 per orang. Situs purbakala Bori Parinding merupakan kawasan kuburan batu dan rante yakni lapangan rumput yang khusus digunakan untuk upacara penguburan.
      Batu Menhir tersebut didirikan untuk menghormati pemuka adat atau keluarga bangsawan yang meninggal. Konon, bebatuan menhir ini ada yang berusia hingga ratusan tahun.
6.      Baby Grave Kalimbuang Bori'
      Baby Grave di Kalimbuang cuma terdapat 1. bayi yang meninggal dan dimakamkan di pohon syaratnya berusia di bawah 6 bulan, belum tumbuh gigi susu, belum bisa jalan, dan masih menyusui. maka akan dimakamkan di salah satu pohon yang mengeluarkan getah berwarna putih seperti air susu, pemakaman bayi pada sebatang pohon ini dalam bahasa Toraja disebut Passilliran dan hanya dilakukan oleh masyarakat Toraja yang menganut Aluk Todolo (kepercayaan terhadap leluhur).
      Pohon taraa' sengaja dipilih sebagai tempat menguburkan bayi karena memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu (ASI). Dengan menguburkan bayi di pohon taraa', orang Toraja menganggap bayi tersebut dikembalikan ke rahim ibunya.
IMG_20151119_151355_HDR.jpg
1.6 Gambar salah satu pohon tempat bayi di makamkan
7.      Papa Batu
      Tongkonan batu ini, -terkenal dengan papa’ batu oleh masyarakat setempat-, berada di desa Banga’ , kecamatan Rembon, Kabupaten Tana Toraja. Papa’ batu ini adalah satu-satunya tongkonan yang memiliki atap dari batu. Rumah adat yang dipercaya telah berumur 700 tahun ini, diwariskan turun temurun kepada keturunan pemiliknya. Badan dan rangka atap, ditopang oleh 55 buah tiang kayu pilihan. Atapnya yang unik, terbuat dari batu pahatan berbetuk segiempat, dengan dua lubang kecil di sisi atas, yang berfungsi untuk mengikatkan papan batu tersebut pada rangka atap. Untuk mengikatnya, “hanya” diperlukan rotan yang kuat.
 
1.7. Gambar Rumah tongkonan dengan atap batu
      Orang-orang tua dahulu tidak mengenal alat ukur yang jelas seperti penggaris. Jadi mereka memahat batu itu selebar kira-kira tiga jengkal orang dewasa, dengan tebal sekitar 5cm. Konon,  setiap atap batu itu berbobot 10 kilogram.  Jumlah atap batu ini sekitar 1000 keping. Jadi kira-kira, beratnya 10 ton.
      Di bagian atas atap, tempat pertemuan atap dari kedua sisi, ditutup dengan bambu dan daun nipah, supaya air hujan tidak merembes masuk. Dinding tongkonan ini terbuat dari dinding berukir khas Toraja dan berlantaikan papan kayu. Tongkonan batu ini disakralkan oleh masyarakat sekitarnya. Artinya, tidak boleh orang masuk tongkonan ini secara sembarangan. Selain keluarga dan kerabat, orang lain (tamu/pengunjung) harus mengetuk dinding di sisi pintu tongkonan ini sebanyak tiga kali sebelum memasukinya.
8.      Ke'te' Kesu
      Kete Kesu merupakan satu dari sekian banyak lokasi wisata di Kabupaten Toraja Utara yang cukup menarik minat turis manca negara maupun domestik. Setiap wisatawan yang ke Toraja, akan menyempatkan diri berkunjung ke objek wisata yang masih menyimpan panorama kepurbakalaan berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia sekitar 500 tahun bahkan lebih tua lagi. Berusia lebih dari 400 tahun. Konon, kondisinya tetap seperti 400 tahun lalu. Kete Kesu adalah kompleks tongkonan (rumah tradisional Toraja) yang paling populer dan paling indah di Toraja.
1.8 Gambar Rumah tongkonan di Ke'te' Kesu
      Kete Kesu terletak di kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Indonesia. Berada sekitar empat kilometer sebelah selatan kota Rantepao atau 14 kilometer sebelah utara Makale. Sebagai tempat wisata, Kete Kesu cukup lengkap, terutama bagi yang hendak memotret kehidupan komunal tradisional orang Toraja. Kete Kesu adalah sebuah area di mana beberapa tongkonan berdiri berjajar, dilengkapi dengan lumbung padi (alang sura), area upacara pemakaman (rante), dan tempat pertemuan adat.
      Tongkonan-tongkonan lengkap dengan berbagai ornamen seperti ukiran khas Toraja dan tanduk kerbau yang disusun di muka. Semakin banyak dan semakin tinggi tanduk yang tersusun menandakan semakin tinggi derajat sosial penghuninya. Di dalam kompleks Kete Kesu ada juga museum yang menyimpan berbagai artefak kuno.
      Sementara di sekitar kompleks Kete Kesu ada liang (pekuburan tradisional) berupa lubang-lubang pada batu cadas. Ada pula panorama persawahan yang indah menghampar. Dengan itu semua Kete Kesu adalah sebuah poros di mana masyarakat hidup, menentukan pranata, menjalani kehidupan, dan memenuhi berbagai kebutuhan.
      Tongkonan tersebut didirikan oleh Puang Ri Kesu dan diwariskan secara turun temurun kepada kekerabatannya. Turunan Puang Ri Kesu masih hidup sekarang. Kompleks itu menjadi cagar budaya, tetap digunakan sebagai ajang kegiatan adat tapi tidak ditinggali. Kete Kesu adalah potret kebudayaan megalitik di Tana Toraja yang paling lengkap.
      Berbagai souvenir dijajakan penduduk di sekitar kompleks tongkonan itu. Ada nampan, tatakan gelas, gelang, kalung, patung, hiasan dinding, dan lukisan. Semuanya bermotif ukiran Toraja karya tangan mereka. Tatakan gelas dijual Rp 1.000, nampan Rp 20.000 Rp 25.000, sedangkan lukisan yang diukir bisa jutaan rupiah.
      Kete’ Kesu adalah salah satu tujuan wisata paling populer di Toraja. Kete’ Kesu berarti “pusat kegiatan”. Sebutan itu sesuai dengan apa yang bisa ditemui di sana, yaitu adanya perkampungan, tempat kerajinan ukiran, dan kuburan. Pusat kegiatan adalah deretan rumah adat yang disebut “tongkonan”, berasal dari kata “tongkon” yang berarti “duduk bersama-sama”. Deretan tongkonan ini (sebagian masih dihuni), berhadapan dengan deretan lumbung padi yang disebut “alang”.
      Di Kete’ Kesu juga terdapat pengukir-pengukir yang handal membuat ukiran untuk rumah adat, hiasan dinding, souvenir, dan tau-tau (patung untuk menghormati orang meninggal yang dikuburkan). Di Kete’ Kesu juga terdapat dua jenis kuburan, yaitu kuburan di bukit batu dan kuburan yang berupa bangunan. Kuburan di bukit batu ini sudah sangat tua. Tumpukan “erong” (peti mati) sudah banyak yang lapuk, dan tulang-tulang berserakan di alam terbuka.
9.      Baby Grave Kambira
      Desa Kambira terletak di Kecamatan Sangalla, sekitar 20 kilometer dari Rantepao, ibu kota Kabupaten Tana Toraja. Di tempat ini, ada kompleks kuburan bayi yang disebut Passiliran, dan kini menjadi salah satu obyek wisata yang sering dikunjungi.
1.9 Gambar salah satu pohon di Kambira tempat bayi di kuburkan
Hanya bayi yang meninggal dan belum tumbuh gigi yang dikuburkan di sini, tepatnya di dalam sebatang pohon Tarra. Bayi yang belum memiliki gigi dianggap masih suci. Sementara dipilihnya pohon Tarra sebagai kuburan bayi karena jenis pohon ini memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu. Dengan menguburkan bayi di dalam pohon Tarra seolah mengembalikan bayi tersebut ke dalam rahim ibunya. Terselip harapan, bahwa dengan mengembalikan bayi ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang lahir kemudian. Jenazah bayi diletakkan dalam posisi berdiri dengan anggapan bayi juga akan tumbuh di dalam pohon.
      Pohon Tarra yang menjadi kuburan bayi ini memiliki diameter sekitar 80 – 100 centimeter. Batangnya dilubangi sedemikian rupa agar jenazah bayi bisa dimasukkan dalam posisi berdiri, kemudian lubang tersebut akan ditutup dengan ijuk pohon Enau. Jenazah bayi ditempatkan menghadap ke arah tempat tinggal keluarganya yang berduka.
      Posisi lubang penempatan jenazah bayi di pohon ini disesuaikan dengan stratasosialnya. Semakin tinggi posisi lubang, menandakan semakin tinggi juga kasta keluarganya. Cara pemakaman seperti ini hanya dilakukan oleh orang Toraja pengikut Aluk Todolo (kepercayaan kepada leluhur). Upacara pemakamannya juga sangat sederhana, dan bayi yang dikuburkan tidak dibungkus dengan apapun, sama seperti bayi yang masih berada di rahim ibunya.
      Setelah puluhan tahun, lubang pada Pohon Tarra akan tertutup sendiri dan jenazah-jenazah bayi itu akan tetap bersemayam di sana. Dari jauh, pohon ini terlihat seperti penuh dengan tambalan-tambalan berbentuk kotak berwarna hitam. Cara menguburkan bayi seperti ini sudah lama tidak dilaksanakan lagi. Namun, pohon Tarra yang buahnya mirip buah sukun ini masih tetap tegak berdiri dan mempunyai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
      Desa Kambira bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi atau bemo dari Makale atau Rantepao. Lokasi pekuburan ini dikelola oleh masyarakat setempat, dan wisatawan yang datang berkunjung akan diminta membayar Rp 5.000 per orang untuk biaya pemeliharaan.
10.  Objek Wisata Suaya
      Suaya adalah kuburan Raja-raja Sangalla. Kuburan ini berada di satu sisi dinding bukit cadas yang dipahat dan dibentuk kantung-kantung. Patung-patung (tau-tau) para raja dan keluarga raja diberi pakaian seperti pakaian saat mereka hidup dulu.
Lokasi ObyekSitus pemakaman gua Suaya terletak 23 kilometer di sebelah selatan kota Rantepao atau lima kilometer sebelah barat kota Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia.
 
1.10 Gambar dinding batu tempat pemakaman raja-raja di Suaya
      Gua-gua itu terletak cukup tinggi dari permukaan tanah. Sebagai tempat bersemayamnya raja, masyarakat sekitar telah menjadikannya tempat ziarah rutin. Sebagaimana tradisi mereka yang sangat menghormati orang-orang besar dan para leluhur. Tersedia tangga batu yang memudahkan wisatawan untuk melihat-lihat ke dalamnya.
Warga sekitar menyebutkan, tangga batu itu sudah ada sejak raja-raja itu masih hidup. Digunakan oleh para raja Sangalla untuk menyendiri dan melakukan semacam pertapaan. Banyak peninggalan para raja, termasuk pusaka-pusaka. Karena itu, pemerintah setempat berencana membangun sebuah museum untuk menyimpannya.
Suaya dapat diakses dari Rantepao maupun Makale dengan kendaraan pribadi atau fasilitas transportasi hotel.
      Tarif Untuk masuk lokasi situs ini, wisatawan dikenai biaya sebesar Rp 5.000 per orang sebagai kontribusi untuk perawatan.

  1. PEMBAHASAN
            Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di pasar tersebut ternyata harga babi cukup tinggi begitu pun dengan harga kerbau. Harga babi yang paling rendah mencapai Rp.650.000,00 itu pun jenis babi yang kecil sedangkan harga babi yang paling tinggi biasanya mencapai Rp 3.000.000,00. Penjualan babi mahal atau murahnya tergantung dari ukuran, dan warna kulit babi. Semakin besar ukuran babi maka harga penjualan semakin tinggi pula dan semakin hitam warna kulit babi maka harga penjualan juga terbilang sangat tinggi.
            Sedangkan untuk penjualan Kerbau, harga penjualan tergantung dari Janis kerbau tersebut. Kerbau memiliki lima jenis yaitu Kerbau Bango, Kerbau Saleko, Kerbau Hitam, Kerbau . Harga penjualan kerbau yang paling mahal yaitu Kerbau Saleko dan biasa harga penjualannya mencapai Rp 750.000.000,00 karena memiliki warna kulit yang belang-belang serta memiliki bola mata yang bercincin. Dan memilki arti tersendiri bagi kepercayaan orang-orang di Tana Toraja. Dan harga terendah biasanya mencapai Rp 30.000.000,00 itu pun jenis Kerbau Hitam. Tetapi harga penjualan Kerbau biasa juga di lihat dari ukuran Kerbau tersebut makin besar Kerbau maka harga penjualannya juga tinggi begitupun sebaliknya. Hanya saja kebanyakan harga penjualan dilihat dari jenis kerbau tersebut.
            Pembahasan dalam praktek lapang ini kami mencoba mengkaji hal-hal yang substansial dan membandingkan ciri pembeda setiap loasisehingga memunculkan hal-hal yang bersifatkhas disetiap lokasi.
            Terdapat 2 tongkonan yang kami  kunjungi dalam kesempatan ini yaitu tongkonan Kete’kesu’ dan Tongkonan Pallawa. Jika ditinjau dari segi umur tongkonan Pallawa lebih dulu di bangun di bandingkan kete’kesu. Hal ini teergambar jelas dari tanduk kerbau yang terdapat didepan bangunan, jika tanduk kerbau menandakan banyaknya dilakukan upacara kematian maka persepsi kami benar. Fakta kedua yang menyebabkan kami menyimpulkan Pallawa lebih tua adalah di renovasinya beberapa tongkonan di Pallaawa, sedangkan bangunan yang belum di renovasi telah tampak tua dann mulaimelapuk. Hal tersebut tentunya menandakan keaslian dan tuanya  tongkonan tersebut.
            Tongkonan kete’ kesu dikatakan lebih muda karena  lebih maju dan modern. Maju dan modern disebabkan karena liang yang dimilikinya lebihbervariasidan menyerupai bentuk gong, yang berarti telah menujukkan kemajuan leluhurnya dalam berfikir.
            Dalam adat masyarakat toraja yang menganut aluk tudolok mengenal system pemakaman berdasarkan kasta. Mewah dan tinggiinya tempat pemakaman menandakan tingginya strata social mereka. Strata tertinggi masyarakat Toraja  adalah masyarakat yang berasal Tanah bulang.  Masyarakat dengan tanah bulang menggunakan liang Patane dan Liang Erong yang memiliki karakteristik unik dan terkesan mewahkarena tlah mengikuti perkembAangan zaman berupa ukiran-ukiran unik yang memilki makna khas. Liangpatene dan Erongbanyak ditemukan di ket’ kesu’.
            Perkuburan  alam londa ditandaidengan  liang perkuburan alam.  Perkuburan ini menggunakan erong / peti. Strata dapat dilihateti  dari  tinggi renahnya letak erong seseorang. Memang ketinggian tempat menunjukkan  tingginya derajat seseorang, namun jika di kaji secara nalar  hal tersebut dilakukan agar harta benda berharga yang di Bawa mayat tersebut tidak dapat di jamah manusi
            Strata social yang kedua adalah masyarakat tanah bassi. Masyarakat  tanah bassi di temukan di Lemo dengan bentang lahan vulkanik, liang pa’ini diperkirakan muncul ketika masyarakat mengenal besi/ bassi. masyarakat ini menyediakan apa yangdisediakan oleh alam dengankemsmpuan yang mereka miliki. Pada perkuburan iang pa’ inidi temukan kuburan bersalib. Hal itu menandakan pemilik liang pa tersebut bukan penganut aluk tudolok asli. Karena kepercayaan aluktudolok tidak bosadisamakan dengan agama apapun bak itu Kristen maupun hindu.
            Perkuburan bayi/ baby gravemerupakan peerkuburan yang khusus di buat untuk bayo yang baru meninggal dan belum memiliki gigi. Bberapa filosofis dari perkuburan ini adalah pelaksanaannya dilakukan di Pohon Tarra denga alasan pohon Tarra merupakan pohon yang suci karena memiliki getah putih. Sesuci bayi yang meninggal tanpa dosa tersebut. Perkuburan bayi ini di buat menghadap berlawanana arah dengan rumahnya agar tidak meninggalkan kesedihan bagi orang tua yang ditinggalkan.
            Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong sekurang-kurangnya 24 ekor).terdapat 2 simbuang batu yang dikunjungi yaitu simbuang batu Pallawa yang berumur lebih tua ditandai dengan batu yang masih asli dan bertekstur kasar, serta ukuran yang sederhana. Sedangkan simbuang batu bori parinding di buat pada zaman megalitikum(zaman Batu besar) terlihat telah mengalami beberapa kemajuan dilihat dari bentuk dan tekstru batu yang telah mengalami perubahan.














BAB V
PENUTUP
  1. Kesimpulan
            Tana Toraja adalah salah satu tempat konservasi peradaban budaya PROTO MELAYU AUSTRONESIA yang masih terawat hingga kini. Kebudayaan adat istiadat, seni musik, seni tari, seni sastra lisan, bahasa, rumah, ukiran, tenunan dan kuliner yang masih sangat Tradisional, membuat Pemerintah Indonesia mengupayakan agar Tana Toraja bisa dikenal di dunia Internasional, salah satunya adalah mencalonkan Tana Toraja ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2009.
  1. Saran
            Adapun saran yang bisa menjadi indikator untuk titik temu dari kebenaran yang sebenarnya adalah :
            Pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan kelestarian budayanya, agar budaya-budaya itu masih tetap selalu ada tidak hilang dari masyarakat Tana toraja.
            Meningkatkan kemampuan penduduk dalam mengelolah sarana pariwisata yang ada sehingga dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan penduduk yang memadai










DAFTAR PUSTAKA
Tim                 Indonesia Exploride. 2012. Baby Grave.
                        http//www.IndonesiaKaya.com/2012/baby-grave.html.
                        Diakses pada tanggal 23 Desember 2015.

Kautsar            Ikbal. 2014. Suaya King's grave : Makam ningrat Sangalla'.                                      http:///www.DIASPORA-IQBAL.blogspot.com/2014/Tana-Toraja-

                        (Bagian III)-Suaya-King's-Grave-Makam-Ningrat-Sangalla'.html

http://www.Wisata-Toraja.com/Wisata-Batu-Tumonga-Toraja.html