Teori
Tektonika Lempeng
Teori Tektonika
Lempeng (bahasa Inggris: Plate Tectonics) adalah teori dalam
bidang Geologi yang dikembangkan untuk memberi
penjelasan terhadap adanya bukti-bukti pergerakan skala besar yang dilakukan
oleh litosfer (kerak bumi). Teori ini telah mencakup
dan juga menggantikan Teori Pergeseran Benua yang lebih dahulu dikemukakan pada
paruh pertama abad ke-20 dan konsep seafloor spreadingyang
dikembangkan pada tahun 1960-an.
Bagian terluar dari
interior bumi terbentuk dari dua lapisan. Di bagian atas terdapat litosfer yang
terdiri atas kerak dan bagian teratas mantel bumi yang kaku dan padat. Di bawah
lapisan litosfer terdapat astenosfer yang berbentuk padat tetapi bisa mengalir
seperti cairan dengan sangat lambat dan dalam skala waktu geologis yang sangat
lama karena viskositas dan kekuatan geser (shear strength) yang rendah. Lebih
dalam lagi, bagian mantel di bawah astenosfer sifatnya menjadi lebih kaku lagi.
Penyebabnya bukanlah suhu yang lebih dingin, melainkan tekanan yang tinggi.
Lapisan
litosfer dibagi menjadi lempeng-lempeng tektonik (tectonic plates). Di bumi,
terdapat tujuh lempeng utama dan banyak lempeng-lempeng yang lebih kecil. Lempeng-lempeng
litosfer ini menumpang di atas astenosfer. Mereka bergerak relatif satu dengan
yang lainnya di batas-batas lempeng, baik divergen (menjauh), konvergen
(bertumbukan), ataupun transform (menyamping). Gempa bumi, aktivitas vulkanik,
pembentukan gunung, dan pembentukan palung samudera semuanya umumnya terjadi di
daerah sepanjang batas lempeng. Pergerakan lateral lempeng lazimnya
berkecepatan 50-100 mm/a. [1]
I.
PERKEMBANGAN TEORI
Pada
akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, geolog berasumsi bahwa
kenampakan-kenampakan utama bumi berkedudukan tetap. Kebanyakan kenampakan
geologis seperti pegunungan bisa dijelaskan dengan pergerakan vertikal kerak
seperti dijelaskan dalam teori geosinklin. Sejak tahun 1596, telah diamati
bahwa pantai Samudera Atlantik yang berhadap-hadapan antara benua Afrika dan
Eropa dengan Amerika Utara dan Amerika Selatan memiliki kemiripan bentuk dan
nampaknya pernah menjadi satu. Ketepatan ini akan semakin jelas jika kita
melihat tepi-tepi dari paparan benua di sana.[2] Sejak saat itu banyak teori
telah dikemukakan untuk menjelaskan hal ini, tetapi semuanya menemui jalan
buntu karena asumsi bahwa bumi adalah sepenuhnya padat menyulitkan penemuan
penjelasan yang sesuai.[3]
Penemuan
radium dan sifat-sifat pemanasnya pada tahun 1896 mendorong pengkajian ulang
umur bumi,[4]karena sebelumnya perkiraan didapatkan dari laju pendinginannya
dan dengan asumsi permukaan bumi beradiasi seperti benda hitam.[5] Dari perhitungan
tersebut dapat disimpulkan bahwa bahkan jika pada awalnya bumi adalah sebuah
benda yang merah-pijar, suhu Bumi akan menurun menjadi seperti sekarang dalam
beberapa puluh juta tahun. Dengan adanya sumber panas yang baru ditemukan ini
maka para ilmuwan menganggap masuk akal bahwa Bumi sebenarnya jauh lebih tua
dan intinya masih cukup panas untuk berada dalam keadaan cair.
Teori Tektonik Lempeng berasal dari Hipotesis
Pergeseran Benua (continental
drift)
yang dikemukakanAlfred
Wegener tahun
1912.[6] dan dikembangkan lagi dalam bukunya The
Origin of Continents and Oceans terbitan tahun 1915.
Ia mengemukakan bahwa benua-benua yang sekarang ada dulu adalah satu bentang
muka yang bergerak menjauh sehingga melepaskan benua-benua tersebut dari inti
bumi seperti ‘bongkahan es’ dari granit yang bermassa jenis rendah yang
mengambang di atas lautan basal yang lebih padat.[7][8] Namun, tanpa adanya
bukti terperinci dan perhitungan gaya-gaya yang dilibatkan, teori ini
dipinggirkan. Mungkin saja bumi memiliki kerak yang padat dan inti yang cair,
tetapi tampaknya tetap saja tidak mungkin bahwa bagian-bagian kerak tersebut
dapat bergerak-gerak. Di kemudian hari, dibuktikanlah teori yang dikemukakan
geolog Inggris Arthur Holmes tahun 1920 bahwa tautan bagian-bagian
kerak ini kemungkinan ada di bawah laut. Terbukti juga teorinya bahwa arus
konveksi di dalam mantel bumi adalah kekuatan penggeraknya.[9][10][3]
Bukti pertama bahwa
lempeng-lempeng itu memang mengalami pergerakan didapatkan dari penemuan
perbedaan arah medan magnet dalam batuan-batuan yang berbeda usianya. Penemuan
ini dinyatakan pertama kali pada sebuah simposium di Tasmania tahun 1956. Mula-mula, penemuan ini
dimasukkan ke dalam teori ekspansi bumi [11], namun selanjutnya justeru lebih
mengarah ke pengembangan teori tektonik lempeng yang menjelaskan pemekaran (spreading) sebagai konsekuensi pergerakan
vertikal(upwelling) batuan, tetapi
menghindarkan keharusan adanya bumi yang ukurannya terus membesar atauberekspansi (expanding
earth)
dengan memasukkan zona subduksi/hunjaman (subduction
zone),
dansesar translasi (translation fault). Pada waktu itulah teori
tektonik lempeng berubah
dari sebuah teori yang radikal menjadi teori
yang umum dipakai dan kemudian diterima secara luas di kalangan ilmuwan. Penelitian lebih lanjut tentang
hubungan antara seafloor spreading dan balikan
medan magnet bumi (geomagnetic
reversal)
oleh geolog Harry Hammond Hess dan oseanograf Ron
G. Mason[12][13][14][15]menunjukkan
dengan tepat mekanisme
yang menjelaskan pergerakan vertikal batuan yang baru.
Seiring dengan
diterimanya anomali magnetik bumi yang ditunjukkan dengan lajur-lajur
sejajar yang simetris dengan magnetisasi yang sama di dasar laut pada kedua
sisi mid-oceanic
ridge,
tektonik lempeng menjadi diterima secara luas. Kemajuan pesat dalam teknik
pencitraan seismik mula-mula di dalam dan sekitar zona
Wadati-Benioff dan
beragam observasi geologis lainnya tak lama kemudian mengukuhkan tektonik
lempeng sebagai teori yang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam segi
penjelasan dan prediksi.
Penelitian
tentang dasar laut dalam, sebuah cabang geologi kelautan yang
berkembang pesat pada tahun 1960-an memegang peranan penting dalam pengembangan
teori ini. Sejalan dengan itu, teori tektonik lempeng juga dikembangkan pada akhir 1960-an dan
telah diterima secara cukup universal di semua disiplin ilmu, sekaligus juga
membaharui dunia ilmu bumi dengan memberi penjelasan bagi berbagai macam
fenomena geologis dan juga implikasinya di dalam bidang lain seperti
paleogeografi dan paleobiologi
II.
PRINSIP-PRINSIP UTAMA
Bagian luar interior
bumi dibagi menjadi litosfer dan astenosfer berdasarkan perbedaan
mekanis dan cara terjadinya perpindahan panas. Litosfer lebih dingin dan kaku,
sedangkan astenosfer lebih panas dan secara mekanik lemah. Selain itu, litosfer
kehilangan panasnya melalui proses konduksi, sedangkan astenosfer juga
memindahkan panas melalui konveksi dan memiliki gradien suhu yang hampir
adiabatik. Pembagian ini sangat berbeda dengan pembagian bumi secara kimia
menjadi inti, mantel, dan kerak. Litosfer sendiri mencakup kerak dan juga
sebagian dari mantel. Suatu bagian mantel bisa saja menjadi bagian dari
litosfer atau astenosfer pada waktu yang berbeda, tergantung dari suhu,
tekanan, dan kekuatan gesernya. Prinsip kunci tektonik lempeng adalah bahwa
litosfer terpisah menjadi lempeng-lempeng tektonik yang berbeda-beda. Lempeng
ini bergerak menumpang di atas astenosfer yang mempunyai viskoelastisitas
sehingga bersifat seperti fluida. Pergerakan lempeng biasanya bisa mencapai
10-40 mm/a (secepat pertumbuhan kuku jari) seperti di Mid-Atlantic Ridge, ataupun mencapai 160
mm/a (secepat pertumbuhan rambut) seperti di Lempeng Nazca.[16][17]
Lempeng-lempeng ini tebalnya sekitar 100 km dan terdiri atas mantel litosferik
yang di atasnya dilapisi dengan hamparan salah satu dari dua jenis material
kerak. Yang pertama adalah kerak samudera atau yang sering disebut dengan
“sima”, gabungan dari silikon dan magnesium. Jenis yang kedua yaitu kerak benua
yang sering disebut “sial”, gabungan dari silikon dan aluminium. Kedua jenis
kerak ini berbeda dari segi ketebalan di mana kerak benua memiliki ketebalan
yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kerak samudera. Ketebalan kerak
benua mencapai 30-50 km sedangkan kerak samudera hanya 5-10 km.
Dua lempeng akan
bertemu di sepanjang batas
lempeng (plate
boundary),
yaitu daerah di mana aktivitas geologis umumnya terjadi seperti gempa bumi dan
pembentukan kenampakan topografis seperti gunung, gunung berapi, dan palung
samudera. Kebanyakan gunung berapi yang aktif di dunia berada di atas batas
lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific
Ring of Fire) di Lempeng Pasifik yang paling aktif dan dikenal luas.
Lempeng tektonik bisa
merupakan kerak benua atau samudera, tetapi biasanya satu lempeng terdiri atas
keduanya. Misalnya, Lempeng
Afrika mencakup benua itu sendiri dan sebagian dasar Samudera Atlantik dan
Hindia. Perbedaan antara kerak
benua dan samudera ialah berdasarkan kepadatan material pembentuknya. Kerak
samudera lebih
padat daripada kerak benua dikarenakan perbedaan perbandingan
jumlah berbagai elemen, khususnya silikon. Kerak samudera lebih padat karena
komposisinya yang mengandung lebih sedikit silikon dan lebih banyak materi yang
berat. Dalam hal ini, kerak samudera dikatakan lebih bersifat mafik ketimbang
felsik.[18] Maka, kerak samudera umumnya berada di bawah permukaan laut seperti
sebagian besar Lempeng Pasifik, sedangkan kerak benua timbul ke atas permukaan
laut, mengikuti sebuah prinsip yang dikenal dengan isostasi.
III.
JENIS-JENIS BATAS LEMPENG
Ada
tiga jenis batas lempeng yang berbeda dari cara lempengan tersebut bergerak
relatif terhadap satu sama lain. Tiga jenis ini masing-masing berhubungan
dengan fenomena yang berbeda di permukaan. Tiga jenis batas lempeng tersebut
adalah:
1. Batas
transform (transform
boundaries)
terjadi jika lempeng bergerak dan mengalami gesekan satu sama lain secara
menyamping di sepanjang sesar transform (transform fault). Gerakan relatif
kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang berlawanan dengan pengamat)
ataupun dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan dengan pengamat). Contoh
sesar jenis ini adalah Sesar San Andreas di California.
2. Batas
divergen/konstruktif (divergent/constructive
boundaries)
terjadi ketika dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge dan zona
retakan (rifting) yang aktif adalah
contoh batas divergen
3. Batas
konvergen/destruktif (convergent/destructive
boundaries)
terjadi jika dua lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk
zona subduksi jika salah satu lempeng bergerak di bawah yang lain, atau
tabrakan benua (continental collision) jika kedua lempeng mengandung kerak benua.
Palung laut yang dalam
biasanya berada di zona subduksi, di mana potongan lempeng yang terhunjam
mengandung banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan
air ini dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan
menyebabkan pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh kasus ini
dapat kita lihat di Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan busur pulau Jepang
(Japanese island arc).
IV.
KEKUATAN PENGGERAK PERGERAKAN LEMPENG
Pergerakan lempeng
tektonik bisa terjadi karena kepadatan relatif litosfer samudera dan karakter
astenosfer yang relatif lemah. Pelepasan panas dari
mantel telah didapati sebagai sumber asli dari energi yang menggerakkan
tektonik lempeng. Pandangan yang disetujui sekarang, meskipun masih cukup
diperdebatkan, adalah bahwa kelebihan kepadatan litosfer samudera yang
membuatnya menyusup ke bawah di zona subduksi adalah sumber terkuat pergerakan
lempeng. Pada waktu pembentukannya di mid ocean ridge, litosfer samudera pada
mulanya memiliki kepadatan yang lebih rendah dari astenosfer di sekitarnya,
tetapi kepadatan ini meningkat seiring dengan penuaan karena terjadinya
pendinginan dan penebalan. Besarnya kepadatan litosfer yang lama relatif
terhadap astenosfer di bawahnya memungkinkan terjadinya penyusupan ke mantel
yang dalam di zona subduksi sehingga menjadi sumber sebagian besar kekuatan
penggerak pergerakan lempeng. Kelemahan astenosfer memungkinkan lempeng untuk
bergerak secara mudah menuju ke arah zona subduksi [19] Meskipun subduksi
dipercaya sebagai kekuatan terkuat penggerak pergerakan lempeng, masih ada gaya
penggerak lain yang dibuktikan dengan adanya lempeng seperti lempeng Amerika
Utara, juga lempeng Eurasia yang bergerak tetapi tidak mengalami subduksi di
manapun. Sumber penggerak ini masih menjadi topik penelitian intensif dan
diskusi di kalangan ilmuwan ilmu bumi. Pencitraan dua dan tiga dimensi interior
bumi (tomografi seismik) menunjukkan adanya distribusi kepadatan
yang heterogen secara lateral di seluruh mantel. Variasi dalam kepadatan ini
bisa bersifat material (dari kimia batuan), mineral (dari
variasi struktur mineral), atau termal (melalui ekspansi dan kontraksi
termal dari energi panas). Manifestasi dari keheterogenan kepadatan secara
lateral adalah konveksi mantel dari gaya apung (buoyancy forces) [20] Bagaimana
konveksi mantel berhubungan secara langsung dan tidak dengan pergerakan planet
masih menjadi bidang yang sedang dipelajari dan dibincangkan dalam geodinamika.
Dengan satu atau lain cara, energi ini harus dipindahkan ke litosfer supaya
lempeng tektonik bisa bergerak. Ada dua jenis gaya yang utama dalam pengaruhnya
ke pergerakan planet, yaitu friksi dan gravitasi.
4.1
Gaya Gesek
Basal
drag
Arus konveksi berskala besar di mantel atas disalurkan melalui astenosfer, sehingga pergerakan didorong oleh gesekan antara astenosfer dan litosfer.
Arus konveksi berskala besar di mantel atas disalurkan melalui astenosfer, sehingga pergerakan didorong oleh gesekan antara astenosfer dan litosfer.
Slab suction
Arus konveksi lokal memberikan tarikan ke bawah pada lempeng di zona subduksi di palung samudera.Penyerotan lempengan (slab suction) ini bisa terjadi dalam kondisi geodinamik di mana tarikan basal terus bekerja pada lempeng ini pada saat ia masuk ke dalam mantel, meskipun sebetulnya tarikan lebih banyak bekerja pada kedua sisi lempengan, atas dan bawah
Arus konveksi lokal memberikan tarikan ke bawah pada lempeng di zona subduksi di palung samudera.Penyerotan lempengan (slab suction) ini bisa terjadi dalam kondisi geodinamik di mana tarikan basal terus bekerja pada lempeng ini pada saat ia masuk ke dalam mantel, meskipun sebetulnya tarikan lebih banyak bekerja pada kedua sisi lempengan, atas dan bawah
4.2
Gravitasi
Runtuhan gravitasi:
Pergerakan lempeng terjadi karena lebih tingginya lempeng di oceanic ridge.
Litosfer samudera yang dingin menjadi lebih padat daripada mantel panas yang
merupakan sumbernya, maka dengan ketebalan yang semakin meningkat lempeng ini
tenggelam ke dalam mantel untuk mengkompensasikan beratnya, menghasilkan
sedikit inklinasi lateral proporsional dengan jarak dari sumbu ini. Dalam
teks-teks geologi pada pendidikan dasar, proses ini sering disebut sebagai
sebuah doronga. Namun, sebenarnya sebutan yang lebih tepat adalah runtuhan
karena topografi sebuah lempeng bisa jadi sangat berbeda-beda dan topografi pematang (ridge) yang melakukan
pemekaran hanyalah fitur yang paling dominan. Sebagai contoh, pembengkakan
litosfer sebelum ia turun ke bawah lempeng yang bersebelahan menghasilkan
kenampakan yang bisa mempengaruhi topografi. Lalu, mantel plume yang menekan
sisi bawah lempeng tektonik bisa juga mengubah topografi dasar samudera.
Slab-pull (tarikan
lempengan)
Pergerakan lempeng sebagian disebabkan juga oleh berat lempeng yang dingin dan padat yang turun ke mantel di palung samudera.[21] Ada bukti yang cukup banyak bahwa konveksi juga terjadi di mantel dengan skala cukup besar. Pergerakan ke atas materi di mid-oceanic ridge mungkin sekali adalah bagian dari konveksi ini. Beberapa model awal Tektonik Lempeng menggambarkan bahwa lempeng-lempeng ini menumpang di atas sel-sel seperti ban berjalan. Namun, kebanyakan ilmuwan sekarang percaya bahwa astenosfer tidaklah cukup kuat untuk secara langsung menyebabkan pergerakan oleh gesekan gaya-gaya itu. Slab pull sendiri sangat mungkin menjadi gaya terbesar yang bekerja pada lempeng. Model yang lebih baru juga memberi peranan yang penting pada penyerotan (suction) di palung, tetapi lempeng seperti Lempeng Amerika Utara tidak mengalami subduksi di manapun juga, tetapi juga mengalami pergerakan seperti juga Lempeng Afrika, Eurasia, dan Antarktika. Kekuatan penggerak utama untuk pergerakan lempeng dan sumber energinya itu sendiri masih menjadi bahan riset yang sedang berlangsung
Pergerakan lempeng sebagian disebabkan juga oleh berat lempeng yang dingin dan padat yang turun ke mantel di palung samudera.[21] Ada bukti yang cukup banyak bahwa konveksi juga terjadi di mantel dengan skala cukup besar. Pergerakan ke atas materi di mid-oceanic ridge mungkin sekali adalah bagian dari konveksi ini. Beberapa model awal Tektonik Lempeng menggambarkan bahwa lempeng-lempeng ini menumpang di atas sel-sel seperti ban berjalan. Namun, kebanyakan ilmuwan sekarang percaya bahwa astenosfer tidaklah cukup kuat untuk secara langsung menyebabkan pergerakan oleh gesekan gaya-gaya itu. Slab pull sendiri sangat mungkin menjadi gaya terbesar yang bekerja pada lempeng. Model yang lebih baru juga memberi peranan yang penting pada penyerotan (suction) di palung, tetapi lempeng seperti Lempeng Amerika Utara tidak mengalami subduksi di manapun juga, tetapi juga mengalami pergerakan seperti juga Lempeng Afrika, Eurasia, dan Antarktika. Kekuatan penggerak utama untuk pergerakan lempeng dan sumber energinya itu sendiri masih menjadi bahan riset yang sedang berlangsung
4.3
Gaya dari luar
Dalam studi yang
dipublikasikan pada edisi Januari-Februari 2006 dari buletin Geological
Society of America Bulletin, sebuah tim ilmuwan dari Italia dan
Amerika Serikat berpendapat bahwa komponen lempeng yang mengarah ke
barat berasal dari rotasi Bumi dan gesekan pasang bulan yang mengikutinya. Mereka berkata karena Bumi berputar ke
timur di bawah bulan, gravitasi bulan meskipun sangat kecil menarik lapisan
permukaan bumi kembali ke barat. Beberapa juga mengemukakan ide kontroversial
bahwa hasil ini mungkin juga menjelaskan mengapa Venus dan Mars tidak memiliki
lempeng tektonik, yaitu karena ketiadaan bulan di Venus dan kecilnya ukuran
bulan Mars untuk memberi efek seperti pasang di bumi.[22] Pemikiran ini sendiri
sebetulnya tidaklah baru. Hal ini sendiri aslinya dikemukakan oleh bapak dari
hipotesis ini sendiri, Alfred Wegener, dan kemudian ditentang fisikawan Harold
Jeffreys yang menghitung bahwa besarnya gaya gesek oasang yang diperlukan akan
dengan cepat membawa rotasi bumi untuk berhenti sejak waktu lama. Banyak
lempeng juga bergerak ke utara dan barat, bahkan banyaknya pergerakan ke barat
dasar Samudera Pasifik adalah jika dilihat dari sudut pandang pusat pemekaran (spreading) di Samudera Pasifik
yang mengarah ke timur. Dikatakan juga bahwa relatif dengan mantel bawah, ada
sedikit komponen yang mengarah ke barat pada pergerakan semua lempeng
4.4
Signifikansi relatif masing-masing mekanisme

Pergerakan lempeng berdasar pada data satelit GPS NASA JPL. Vektor di sini menunjukkan arah dan magnitudo gerakan.
Vektor yang sebenarnya
pada pergerakan sebuah planet harusnya menjadi fungsi semua gaya yang bekerja
pada lempeng itu. Namun, masalahnya adalah seberapa besar setiap proses ambil
bagian dalam pergerakan setiap lempeng Keragaman kondisi geodinamik dan sifat
setiap lempeng seharusnya menghasilkan perbedaan dalam seberapa proses-proses
tersebut secara aktif menggerakkan lempeng. satu cara untuk mengatasi masalah
ini adalah dengan melihat laju di mana setiap lempeng bergerak dan
mempertimbangkan bukti yang ada untuk setiap kekuatan penggerak dari lempeng
ini sejauh mungkin. Salah satu hubungan terpenting yang ditemukan adalah bahwa
lempeng litosferik yang lengket pada lempeng yang tersubduksi bergerak jauh
lebih cepat daripada lempeng yang tidak. Misalnya, Lempeng
Pasifik dikelilingi zona
subduksi (Ring
of Fire)
sehingga bergerak jauh lebih cepat daripada lempeng di Atlantik yang lengket
pada benua yang berdekatan dan bukan lempeng tersubduksi. Maka, gaya yang
berhubungkan dengan lempeng yang bergerak ke bawah (slab
pull dan slab suction)
adalah kekuatan penggerak yang menentukan pergerakan lempeng kecuali untuk
lempeng yang tidak disubduksikan. Walau bagaimanapun juga, kekuatan penggerak
pergerakan lempeng itu sendiri masih menjadi bahan perdebatan dan riset para
ilmuwan
V.
LEMPENG-LEMPENG UTAMA
Lempeng-lempeng
tektonik utama yaitu:
* Lempeng
Afrika, meliputi Afrika – Lempeng benua
* Lempeng Antarktika, meliputi Antarktika – Lempeng benua
* Lempeng Australia, meliputi Australia (tergabung dengan Lempeng India antara 50 sampai 55 juta tahun yang lalu)- Lempeng benua
* Lempeng Eurasia, meliputi Asia dan Eropa – Lempeng benua
* Lempeng Amerika Utara, meliputi Amerika Utara dan Siberia timur laut – Lempeng benua
* Lempeng Amerika Selatan, meliputi Amerika Selatan – Lempeng benua
* Lempeng Pasifik, meliputi Samudera Pasifik – Lempeng samudera
* Lempeng Antarktika, meliputi Antarktika – Lempeng benua
* Lempeng Australia, meliputi Australia (tergabung dengan Lempeng India antara 50 sampai 55 juta tahun yang lalu)- Lempeng benua
* Lempeng Eurasia, meliputi Asia dan Eropa – Lempeng benua
* Lempeng Amerika Utara, meliputi Amerika Utara dan Siberia timur laut – Lempeng benua
* Lempeng Amerika Selatan, meliputi Amerika Selatan – Lempeng benua
* Lempeng Pasifik, meliputi Samudera Pasifik – Lempeng samudera
Lempeng-lempeng
penting lain yang lebih kecil
mencakup Lempeng India, Lempeng Arabia, Lempeng
Karibia, Lempeng Juan de Fuca, Lempeng Cocos, Lempeng Nazca, Lempeng Filipina, dan Lempeng Scotia.
Pergerakan lempeng
telah menyebabkan pembentukan dan pemecahan benua seiring berjalannya waktu,
termasuk juga pembentukan superkontinen yang mencakup hampir semua atau semua
benua. Superkontinen
Rodinia diperkirakan terbentuk
1 miliar tahun yang lalu dan mencakup hampir semua atau semua benua di Bumi dan
terpecah menjadi delapan benua sekitar 600 juta tahun yang
lalu.Delapan benua ini selanjutnya tersusun kembali
menjadi superkontinen lain yang disebut Pangaea yang pada akhirnya juga terpecah
menjadi Laurasia (yang menjadi Amerika Utara dan
Eurasia),
danGondwana (yang menjadi benua sisanya)



