KATA
PENGANTAR
Syukur
alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT, karena atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya lah sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan
laporan dari hasil praktek lapang "GEOGRAFI BUDAYA" yang dilaksanakan
di Kabupaten Tana Toraja.
Mulai
dari persiapan dan proses praktek lapang hingga laporan ini, penulis mendapat
hambatan, tapi berkat bantuan dan saran dari berbagai pihak sehngga hambatan
tersebut dapat teratasi. Dalam penyusunan laporan ini tak lupa penulis ucapkan
banyak terima kasih kepada Bapak Dosen penanggung jawab mata kuliah ini dan
beberapa asisten lapangan yang senantiasa membantu.
Saya
menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari
itu penulis mengharapkan kritik dan saran guna kesempurnaan dan manfaat dari
laporan ini.
Makassar, Desember 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
DAFTAR ISI . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. 2
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
B.
Tujuan . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . 3
C.
Manfaat . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
BAB II KAJIAN TEORI
A.
Asal - Usul . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
B.
Sejarah . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
C.
Ciri
Khas Suku Toraja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
D.
Kesenian san Kebudayaan . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
BAB III METODE
PELAKSANAAN PRAKTEK LAPANG
A.
Pemilihan Daerah Praktikum . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11
B.
Pengumpulan dan Pengamatan Data di
Lapangan . . . . . . . . . 11
C.
Waktu Pelaksaan Praktikum. . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . 11
BAB IV HASIL DAN
PEMBAHASAN
A.
Gambaran Umum Lokasi Praktek. . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . 12
B.
Hasil . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12
C.
Pembahasan . . . . . . . . .. . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . 27
BAB V PENUTUP
A.
Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . 30
B.
Saran . . . . . . . . . . . . . . . . ..
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB
I
PENDAHULIAN
- Latar
Belakang
Indonesia terkenal
dengan keragaman budayanya. Manusia dan kebudayaan adalah satu hal yang tidak
bisa di pisahkan karena di mana manusia itu hidup dan menetap pasti manusia
akan hidup sesuai dengan kebudayaan yang ada di daerah yang di tinggalinya.
Manusia merupakan
makhluk sosial yang berinteraksi satu sama lain dan melakukan suatu
kebiasaan-kebiasaan yang terus mereka kembangankan
dan kebiasaan-kebiasaan tersebut akan menjadi kebudayaan. Setiap
manusia juga memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, itu disebabkan mereka
memiliki pergaulan sendiri di wilayahnya sehingga manusia di manapun memiliki kebudayaan
yang berbeda masing-masing. Perbedaan kebudayaan disebabkan karna perbedaan
yang dimiliki seperti faktor Lingkungan, faktor alam, manusia itu sendiri dan
berbagai faktor lainnya yang menimbulkan Keberagaman budaya tersebut Seiring
dengan berkembangnya teknlogi informasi dan komunikasi yang masuk ke Indonesia
diharapkan dapat dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap kebudayaan
masing – masing daerah, karena kebudayaan merupakan jembatan yang menghubungkan
dengan manusia yang lain.
- TUJUAN PRAKTEk LAPANG
1.
Tujuan Intruksional Umum
a) Memiliki pengetahuan dan sikap positif pada budaya nasional
dan suku budaya bangsa yang menopang pertumbuhan budaya nasional.
b) Memahami peranan kebudayaan dalam
membina persatuan dan kesatuan sikap melalui sikap menghargai dan mencintai
budaya suku bangsanya sendiri.
2.
Tujuan Intruksional Khusus
a) Dengan melakukan observasi tentang
posisi permukiman penduduk di Toraja, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan
hubungan kondisi geografis dengan distribusi permukiman di Toraja.
b) Dengan melakukan wawancara dengan
tokoh atau budayawan masyarakat Toraja mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan
wujud kebudayaan material dan kebudayaan non material Suku Toraja dalam
kaitannya dengan keadaan geografis daerah itu.
c) Dengan mengamati tempat-tempat yang
memiliki bentuk-bentuk kebudayaan dan nilai budaya Suku Toraja, para mahasiswa
diharapkan dapat:
d) Membedakan daerah itu dengan
kebudayaan daerah lain serta dapat menarik garis batas dipeta daerah-daerah
kebudayaan itu.
2) Menjelaskan bahwa kebudayaan Toraja
lebih tua dari kebudayaan daerah sekitarnya.
Dengan
menghadiri dan mencermati upacara pemakaman mayat, mahasiswa dapat menjelaskan
tentang lapisan kebudayaan toraja baik secara vertical maupun secara
horizontal.
e) Dengan memeperhatiak nlingkungan alam,
perilaku dan perlakuan masyarakat Suku Toraja para mahasiswa diharapkan dapat
menjelaskanpengaruh lingkungan alam terhadap:
1) Perkembangan kebudayaan suku Toraja
2) Perilaku masyrakat Toraja
f) Dengan mengunjungi beberapa toko
yang menjual hasil kerajinan atau tempat yang memproduksi kerajinan rakyat
mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan bahwa:
1) Perkembangan kebudayaan rakyat itu
turut dipengaruhi oloeh lingkungan alam
2) Masyarakat Toraja adalah masyrakat
yang terbuka dari pengaruh kebudayaan lain
3) Dengan mendatangi pasar hewan
Rantepao dan membaur di dalamnya mahasiswa diharapkan dapat mengidentifikasi
aspek ekonomi dan aspek budaya yang khusus dari pasar hewan itu.
4) Dengan mendiskusikan hasil
observasi,wawancara, pengamatan dari semua obyek yang dikunjungi, mahasiswa
diharapkan dapat membuat laporan secar tertulis dengan rapi, baik kelompok
maupun kelas.
C.
Manfaat Praktek Lapangan
Adapun manfaat dari
penelitian ini antara lain :
1. Untuk mengetahui hubungan kondisi
geografis dengan distribusi permukiman di Toraja.
2. Untuk mengetahui menjelaskan wujud
kebudayaan material dan kebudayaan non material Suku Toraja dalam kaitannya
dengan keadaan geografis daerahnya
3. Untuk Mengetahui bentuk-bentuk
kebudayaan dan nilai budaya Suku Toraja
4. Untuk mengetahui perkembangan budaya
suku toraja dan Prilaku masyarakat Suku Toraja.
5. Untuk mengetahui keterbukaan
masyarakat toraja Terhadap kebudayaan lain yang masuk dari Luar Wilayah Toraja
6. Untuk mengetahui Jenis mata
pencaharian Serta penghasilan dari masyarakat suku Toraja
BAB
II
KAJIAN
TEORI
Budaya
atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhi yang berarti akal.
Maka budaya adalah hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya
Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional/lokal dan kebudayaan asing yang
telah ada di Indonesia. Budaya nasional adalah budaya yang benar-benar berasal
dari Indonesia sendiri dan lebih dikenal dengan budaya timur. Sedangkan budaya
barat adalah budaya yang berasal dari luar Negara Indonesia. Budaya nasional di
Indonesia sangat beragam dan dibutuhkan adanya toleransi antar masyarakat.
Tana Toraja merupakan salah satu daya tarik wisata Indonesia,
dihuni oleh Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya
hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup AUSTRONESIA yang asli dan
mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu obyek wisata di
Sulawesi Selatan. Suku Toraja
terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual
pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri
oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.
- Asal-Usul
Menurut legenda, nenek moyang orang Toraja
berasal dari Hindia Belakang (Siam). Mereka ber-imigrasi ke daerah selatan
untuk mencari daerah baru. Mereka menggunakan kapal yang menyerupai rumah adat
orang Toraja sekarang ini. Asal-usul tentang pengertian Toraja, ada
dua versi. Versi pertama mengatakan bahwa kata Toraja berasal dari kata “to”
yang artinya orang dan kata “raja” yang artinya raja. Jadi Toraja artinya
orang-orang keturunan raja. Versi lain mengatakan bahwa Toraja berasal dari dua
kata yaitu “to” yang artinya orang dan “ri aja” (bahasa Bugis) yang artinya
orang-orang gunung. Jadi Toraja artinya orang-orang gunung. Kedua versi
tersebut memiliki alasan yang berbeda-beda dan masuk akal.
- Sejarah
1.
Tahun 1926 Tana Toraja sebagai Onder Afdeeling Makale-Rantepao
dibawah Self bestur Luwu.
2.
Tahun 1946 Tana Toraja terpisah menjadi Swaraja yang berdiri
berdasarkan Besluit Lanschap Nomor 105 tanggal 8 Oktober 1946.
3.
Tahun 1957 berubah menjadi Kabupaten Dati II Tana Toraja
berdasarkan UU Darurat Nomor 3 tahun 1957.
4.
UU Nomor 22 tahun 1999 Kabupaten Dati II Tana Toraja berubah
menjadi Kabupaten Tana Toraja.
Nama
Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendereng dan dari Luwu. Orang
Sidendereng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang
mengandung arti “orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang
orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di
sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asalnya To= Tau (orang),
Raya= dari kata Maraya (besar), artinya orang-orang besar, bangsawan.
Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri,
sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal dengan nama Tana Toraja.
- Ciri Khas Suku Toraja
Salah satu ciri khas suku Toraja adalah
tempat pemakamannya. Rante, yaitu tempat upacara pemakaman secara adat yang
dilengkapi dengan 100 buah menhir/megalit, yang dalam bahasa Toraja disebut
Simbuang batu. 102 bilah batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24
buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang, dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran
menhir ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor
perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu.
- Kesenian dan Kebudayaan
1.
Adat Perkawinan Daerah Sulawesi Selatan
a)
Melamar
Dalam
melamar ada beberapa tahapan yang harus dijalankan, antara lain dengan cara
pendekatan oleh pihak pria kepada pihak wanita, seperti menanyakan apa sang
gadis masih belum ada ikatan dengan pria lain dan sebagainya. Bilamana sang
gadis masih belum ada ikatan, pihak keluarga pria mengirim beberapa utusan yang
terdiri dari keluarga terdekat sang pria. Tugas mereka adalah untuk melamar
sang gadis secara resmi yang disebut massuro. Bila lamaran diterima oleh pihak
wanita, maka kedua pihak lalu berembuk untuk menetapkan besarnya mas kawin atau
sompa, juga biaya perkawinan dan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan.
b)
Persiapan dan Upacara Pernikahan
Beberapa
hari menjelang pernikahan, keluarga mengadakan mappaci, yaitu malam berbedak,
bersolek, dan memerahi kuku atau berinai. Pada hari yang telah ditetapkan,
kedua mempelai melakukan akad nikah menurut agama Islam yang dilakukan oleh
penghulu, kemudian kedua mempelai melakukan upacara adat, yaitu mempelai pria
menyentuh salah satu anggota badan mempelai wanita, seperti ibu jari atau
tengkuk. Itu berarti bahwa mempelai wanita telah syah menjadi mempelai pria. Setelah
itu, keluarga mempersandingkan kedua pengantin di pelaminan, disaksikan oleh
para tamu. Seluruh upacara perkawinan yang diramaikan dengan pesta ini
berlangsung di rumah mempelai wanita dan upacara ini dinamakan marola.
c)
Pakaian Pengantin
Pakaian
pengantin pria dari Bugis-Makasar berupa baju jas model tertutup yang disebut
baju bella dada, kain sarung songket yang disebut rope. Di pinggang bagian
depan terselip sebuah keris pasang timpo (keris yang terbungkus emas
separuhnya) atau keris tataroppeng (keris yang terbungkus emas seluruhnya), sedangkan
di kepala terdapat hiasan kepala yang disebut sigara.
Pengantin wanita memakai baju bodo, kain sarung songket atau rope, dan selendang di bahu. Sanggul pengantin wanita berhiaskan kembang goyang dan perhiasan lainnya berupa kalung bersusun, sepasang bassa atau gelang panjang bersusun, dan anting-anting.
Pengantin wanita memakai baju bodo, kain sarung songket atau rope, dan selendang di bahu. Sanggul pengantin wanita berhiaskan kembang goyang dan perhiasan lainnya berupa kalung bersusun, sepasang bassa atau gelang panjang bersusun, dan anting-anting.
2.
Lagu-Lagu khas Toraja
a)
Siulu’
b)
Lembang Sura’
c)
Marendeng Marampa’
d)
Siulu’ Umba Muola
e)
Passukaranku
f)
Katuoan Mala’bi’
g)
Susi Angin Mamiri
h)
Kelalambunmi Allo
i)
Tontong Kukilalai
- Obyek Wisata di Tana Toraja
1.
Ke'te' Kesu
2.
Londa
3.
Batu Tumonga, DLL.
- Potensi Alam Toraja
Lampako
Mampie adalah sebuah taman suaka margasatwa yang berada di Pulau Sulawesi
dengan luas hampir 2000 ha. Suaka margasatwa ini tepatnya berada di bagian
barat Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi pada kabupaten Polewali Mamasa.
Kondisi lapangan dari taman suka margasatwa tersebut terdiri atas daerah wet
land yang terdiri dari daerah berawa-rawa dengan secondary forest seluas 300 ha
swamp forest dan beberapa daerah isolasi mangrove. Daerah suaka margasatwa ini
merupakan daerah yang sangat penting bagi tumbuhan dan hewan. Hewan utamanya
adalah burung Mandar Sulawesi atau Ballidae atau Celebes Rails (Aramidopsis
plateni) yang merupakan burung endemis yang hidup pada kawasan tersebut.
Disamping itu, kawasan ini juga merupakan daerah untuk berkembang biak beberapa
hewan lainnya, bahkan menjadi tempat persinggahan burung-burung yang
bermigrasi.
Dengan
melihat dari berbagai pengertian ekowisata, potensi yang dimiliki oleh daerah
tersebut, pengelolaan kawasan suaka yang mulai ditangani daerah dan keinginan
masyarakat lokal untuk dapat membangun sebuah kawasan yang berasaskan
lingkungan hidup, sehingga timbulah keinginan masyarakat daerah tersebut untuk
dapat mengelola langsung kawasan suaka ini dengan tetap memperhatikan alam,
disamping mereka juga mendapatkan insentif secara ekonomis untuk kelangsungan
anak.
BAB III
METODE PELAKSANAANPRAKTEK LAPANG
A.
Pemilihan Daerah Praktikum
Tana
Toraja merupakan sebuah kawasan wisata yang terkenal dengan kebudayaannya,
kebudayaan yang paling terkenal di daerah ini ialah acara pemakaman, tentunya
acara pemakaman yang dilakukan didaerah ini berbeda dengan acara kematian yang
dilakukan oleh masyarakat umum yang ada di suatu daerah.
Sesuatu
yang terlihat jelas dari perbedaan acara pemakaman Tana Toraja dengan daerah
lain yaitu dari segi biaya yang dipakai dalam acara ini, dimana masyarakat Tana
Toraja mengeluarkan uang ratusan juta rupiah untuk biaya pemakaman masyarakat
Tana Toraja. Dengan adanya perbedaaan dan kebudayaan khas tersendiri yang
dimiliki oleh Tana Toraja maka lokasi ini sangat tepat untuk melakukan sebuah
praktek lapang dengan maksud mengetahui kebudayaan-kebudayaan yang ada didaerah
ini.
B.
Pengumpulan dan Pengamatan Data di Lapangan
Tekhnik
pengumpulan data yaitu dengan mendatangi objek-objek wisata yang ada kemudian
melakukan wawancara dengan masyarakat umum yang berdiam dilokasi tersebut, dan
pemberian arahan atau gambaran lokasi dari dosen dan asisten pembimbing.
C.
Waktu Pelakasanaan Praktikum
Adapun
waktu pelaksanaan praktikum ini, yaitu pada tanggal 18-20 Desember 2015
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
- Gambaran
Umum Lokasi Praktikum
Kabupaten Tana Toraja merupakan
salah satu dari 23 kabupaten yang ada di propinsi Sulawesi Selatan yang
terletak diantara 2º20´ LS sampai 3º30´ LS dan 119º30´ BT sampai 120º10´ BT.
"Ibukota" Tator yakni kota kecil Rantepao adalah kota yang dingin dan
nyaman, dibelah oleh satu sungai terbesar di Sulsel yakni sungai Saddang,
sungai inilah yang memberikan tenaga pembangkit listrik untuk menyalakan
seluruh Makasar. Secara Sosio linguistik, bahasa Toraja disebut bahasa Tae oleh
Van Der Venn. Ahli bahasa lain seperti Adriani dan Kruyt menyebutnya sebagai
bahasa Sa'dan. Bahasa ini terdiri dari
beberapa dialek, seperti dialek Tallulembangna (Makale), dialek Kesu
(Rantepao), dialek Mappapana (Toraja Barat).
Batas-batas Kabupaten Tana Toraja
adalah:
Sebelah Utara : Kabupaten Toraja Utara
Sebelah Timur : Kabupaten Luwu
Sebelah Selatan : Kabupaten Enrekang dan Kabupaten
Pinrang
Sebelah Barat : Kabupaten Polmas
Luas
wilayah Kabupaten Tana Toraja tercatat 3.205,77 km² atau sekitar 5% dari luas
propinsi Sulawesi Selatan, yang meliputi 15 (lima belas) kecamatan. Jumlah
penduduk pada tahun 2001 berjumlah 404.689 jiwa yang terdiri dari 209.900 jiwa
laki-laki dan 199.789 jiwa perempuan dengan kepadatan rata-rata penduduk 126
jiwa/km² dan laju pertumbuhan penduduk rata-rata berkisar 2,68% pertahun.
- Hasil
Hasil
dari praktek lapang :
1.
Marante
Tondon
Pada mulanya Desa Tondon lasim disebut Mesa' Ba'bana Tondon
Apa' Tepona Padang, yaitu Tondok Batu, Siba'ta, Kondo' dan Langi'. Sangpulo dua
Karopi'na itulah Desa Tondon, yang dipimpin oleh dua pemangku adat yang lazim
disebut Toparenge', yaitu Marante dan Barang Bua'. Fungsi Toparenge' disini
adalah memimpin segala kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat baik itu
upacara pesta syukur (Rambu Tuka') maupun upacara pesta pemakaman (Rambu
Solo'), juga penentu kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam masyarakat. Seiring
dengan kemajuan pembangunan dan terpilihnya Tana Toraja sebagai salah satu
daerah tujuan wisata di Indonesia.
Sejak
itu juga Marante terpilih sebagai salah satu obyek wisata yang ada di Tana
Toraja, karena Marante mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu terletak
pada jalan poros dari Makassar ke Palopo dan letaknya tidak jauh dari kota
Rantepao yang jaraknya kira-kira 4 km. Disamping itu Marante mempunyai daya
tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang datang berkunjung ke Marante, baik
itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara/domestik.
Obyek
wisata Marante memiliki banyak daya tarik peninggalan-peninggalan kuno yaitu
berupa :
1.
Rumah adat (rumah tongkonan)
2.
Patung-patung (tau-tau)
3.
Erong
4.
Kuburan batu/liang pahat
5.
Patane (kuburan kayu)
6.
Dan masih banyak
lagi pemandangan yang bisa memikat hati wisatawan.

1.1 Gambar tau-tau yang ada
di dinding batu di Marante
2.
Pasar
Bolu
Bagi masyarakat
penghuni Tana Toraja, hewan kerbau dan juga babi memiliki arti penting dalam
kehidupan mereka. Hewan kerbau adalah syarat mutlak yang mesti dipenuhi dalam
upacara-upacara adat, terutama pemakaman salah seorang anggota keluarga yang
telah meninggal dunia. Masyarakat
Toraja percaya bahwa hewan kerbau menjadi media bagi roh sang jenazah agar cepat
sampai ke alam akherat. Kedudukan dan posisi keluarga yang tengah berduka dapat
diketahui dari banyaknya hewan kerbau yang di sembelih pada upacara tersebut.
Sebuah refleksi keluhuran budaya dan ilmu pengetahuan yang telah di wariskan
secara turun temurun oleh leluhur suku Toraja.
Golongan
bangsawan Toraja mampu menyembelih 25 sampai 100 ekor kerbau dalam suatu
upacara pemakaman. Sementara untuk golongan menengah, 8 ekor kerbau dan 50 babi
merupakan ketentuan wajib yang mesti di penuhi dalam pelaksanaan ‘Rambu Solo’,
sebutan lain bagi upacara pemakaman jenazah masyarakat Toraja.
Di
Rantepao, terdapat pasar tempat terjadinya transaksi jual beli kerbau dan babi.
Namanya Pasar Bolu. Untuk mencapainya hanya memerlukan waktu tak sampai 15
menit dari Rantepao, ibukota kabupaten Toraja Utara. Lokasi persis nya ada di
Jl. Poros yang menghubungkan kota Rantepao dan Palopo di wilayah desa Kolla,
kecamatan Tondun.
Uniknya,
pasar ini hanya buka satu kali dalam rentang waktu enam hari mengikuti ‘pasa’
tedong’, demikian masyarakat Toraja menyebut hari dibuka nya pasar ini. ‘Pasa’
berarti pasar dan ‘tedong’ berarti kerbau. Sebagian besar hewan yang diperjual
belikan di pasar yang sebagian besar area nya terdiri dari padang rumput ini
pun hanya lah kerbau dan babi.

1.2. Gambar
salah satu Tedong Bunga yang di pasarkan
Upacara adat yang kerap kali di
selenggarakan secara serentak di berbagai pelosok wilayah Toraja menyebabkan
pasar Bolu selalu ramai oleh pembeli. Dalam sehari, transaksi jual beli kerbau
di pasar Bolu bisa mencapai milyaran rupiah. Lima ratus sampai tujuh ratus ekor
bisa terjual dalam sehari. Ukuran tubuh, warna bulu beserta motifnya adalah
faktor-faktor yang mempengaruhi harga kerbau yang di tawarkan. Kerbau hitam
berukuran kecil, ditawarkan seharga 5 juta rupiah. Kerbau berwarna hitam
(Tedong Pu’du) yang ukuran nya lebih besar harga nya sekitar 10-15 juta rupiah.
Meski ukuran nya sama besar namun bila warna bulu kerbau belang (putih) dengan
motif tertentu di seluruh permukaan badan nya maka seekor kerbau bisa di
tawarkan dengan harga 60-250 juta rupiah.
Kerbau
jenis terakhir ini sering disebut ‘Tedong Bunga’ atau juga ‘Tedong Bunga
Saleko’. Ada juga motif-motif warna bulu kerbau tertentu yang lain berdasarkan
letak warna di bagian tubuh kerbau seperti ‘Tedong Bonga Sori’, ‘Tedong Todi’,
dan ‘Tedong Sambao’. Semuanya memiliki ragam harga yang berbeda. Tawar menawar
dan penyerahan sejumlah uang seharga kerbau yang telah dibeli juga terjadi di
Pasar Bolu. Cukup seru menikmatinya. Bila kerbau di hari itu belum laku
terjual, maka pedagang kerbau akan menawarkan nya di lain waktu. Bagi para
pendatang dan wisatawan ini merupakan pemandangan tersendiri yang tak akan di
temukan di tempat lain.
Berjalan-jalan
di sela-sela barisan ratusan kerbau yang berjejer juga merupakan pengalaman
yang menyenangkan. Namun kewaspadaan harus tetap dijaga mengingat tanduk-tanduk
kerbau dewasa cukup runcing untuk bisa melukai anggota badan atau merobek
pakaian yang dikenakan. Para penjual
nya berdiri tak jauh dari kerbau-kerbau mereka, dengan mengenakan sarung mereka
menawarkan kerbau-kerbau dagangan mereka sambil sesekali menerangkan kelebihan
hewan-hewan tersebut dibandingkan dengan yang lain.
Hewan
Babi juga di tawarkan di pasar rakyat yang luasnya kira-kira 2,5 Ha ini. Di
salah satu sudut pasar, tepatnya di bagian dalam, terdapat pula babi-babi yang
siap dijual baik dalam keadaan hidup ataupun sudah mati. Ukuran badan dan umur
babi pun berbeda-beda. Pembeli yang berminat tinggal memilih, menawar dan
membawa pulang. Kisaran harga nya adalah 1,5-2 juta rupiah. Untuk hewan yang
satu ini pembeli kerap kali menggotong sendiri babinya sampai ke rumah.
Bilah-bilah bambu sering digunakan untuk menggotongnya.
3.
Tongkonan
Pallawa'
Pallawa adalah salah
satu desa Tana Toraja yang terkenal akan barisan Tongkanan (rumah tradisional
Toraja) yang masih terjaga kelestariannya walaupun sudah berdiri selama ratusan
tahun. Jajaran Tongkanan yang nampak gagah berhadapan dengan jajaran alang atau lumbung padi yang sederhana,
membuat aura etnik desa ini menjadi sangat kental.
1.3 Gambar pemandangan dari pinggir
gunung Sesean.
4.
Batu
Tumonga
Tradisi budaya yang
menarik serta pemandangan alam yang mempesona seolah sudah terlebur menjadi
satu paket yang bisa di nikmati bila berkunjung ke Tana Toraja. Di Toraja,
kemanapun kita pergi untuk menikmati budaya masyarakat setempat, hampir pasti
panorama alam yang cantik akan selalu menjadi bagian dari perjalanan. Demikian
pula sebaliknya, bila kita mengunjungi suatu tempat unuk menikmati pesona alam
nya maka tradisi warisan leluhur Toraja yang umurnya sudah ratusan tahun selalu
pula bisa di saksikan. Bila pilihan nya adalah menikmati sensasi elok yang di
miliki oleh alam Toraja, sebuah wilayah di kaki Gunung Sasean bisa di datangi. Daerahnya
begitu hening namun asri, jauh dari hiruk pikuk kepadatan kota.
1.4 Gambar pemandangan dari pinggir gunung Sesean.
Nama lokasinya adalah ‘Batutumonga’.
Destinasi wisata alam yang persisnya menjadi bagian dari area Sa’dan ini berada
di Toraja bagian utara. Perjalanan bisa di mulai dari kota Rantepao yang
merupakan ibukota kabupaten Tana Toraja ke arah Sa’dan yang berjarak sekitar 20
km-an.
Rute
Rantepao-Batutumonga melewati tempat-tempat lain yang juga bisa di singgahi
seperti Bori, Pangli, Tinimbayo dan Deri. Sebuah pertigaan di
Bori akan menjadi penanda untuk merubah arah perjalanan, belokan ke kirinya
akan mengarah ke Batutumonga. Dari sini jalanan akan menanjak ke atas hingga di
wilayah Batutumonga. Sebuah wilayah yang bernama Tinimbayo akan terlewati, yang
juga berarti Batutumonga berada tak jauh lagi. Di wilayah yang cocok digunakan
sebagai tempat peristirahatan perjalanan ini bisa ditemui banyak penjual
makanan dan minuman. Panorama dataran tinggi sebenarnya sudah bisa terasa di
Tinimbayo. Beberapa gazebo yang ada di Tinimbayo bisa digunakan sebagai tempat
bercengkrama sambil menikmati kesegaran udara pegunungan. Rerimbunan pohon yang
tumbuh lebat di wilayah ini menjadikan sinar matahari tidak terlalu terasa
menembus kulit, menambah suasana menjadi lebih nyaman dan sejuk. Pepohonan yang
segar menghijau dan tumbuh subur bisa di saksikan dari ketinggian. Tongkonan
dan ‘Alang’ (lumbung padi) juga bisa terlihat nun jauh di bawah nya.
Hamparan
sawah yang mengelilingi bangunan-bangunan tradisional tersebut membuat sensasi
alami menjadi lebih lengkap dan indah. Sebuah bonus yang sempurna dari
perjalanan menuju ke Batutumonga. Meski berada di kaki Gunung Sasean,
Batutumonga masih berada di dataran tinggi, karena nya kabut akan banyak
terlihat di pagi hari. Awan pun kerap menutupi daerah ini, tak heran bila
banyak wisatawan menyebut Batutumonga sebuah lokasi yang berada di atas awan. Wilayah
yang sunyi dan tenang ini memiliki beberapa penginapan yang bisa di jadikan
tempat bermalam. Namun jangan berharap banyak untuk bisa mendapatkan derap
aktivitas kota di malam hari karena Batutumonga berada jauh dari pusat kota.
Meski
tak ada tempat duduk atau Gazebo, dari jalan ini bisa dinikmati bentangan sawah
dan batu-batu makam yang berpadu dengan kontur bumi yang ‘terpahat’ secara
alami. Warna hijau segar menjadi warna dominan yang memanjakan penglihatan
siapa saja yang menikmatinya.
Hilir
mudik warga Toraja yang sedang memberi pakan ternak-ternak mereka juga bisa
dinikmati, beberapa diantaranya juga bisa terlihat sedang bekerja di
petak-petak sawah berundak yang menghampar bak permadani. Sajian kopi hangat
khas Toraja pun bisa dipilih untuk di jadikan teman menikmati suasana.
5.
Kalimbuang
Bori' Pusat Purbakala Kompleks Megalit
Siapa
tak kenal situs megalitik Stone Edge di daratan Eropa? Menakjubkan bukan?
jangan salah, Indonesia juga memiliki situs serupa Stone Edge dan tak kalah
menakjubkan.
Satu
di antaranya yakni situs megalitik Bori Parinding di Kalimbuang Bori Kec.
Sesean, Kab. Toraja Utara, Sulsel. Situs megalitik tersebut berjarak sekitar
328 KM dari Kota Makassar.
Bori
adalah tempat di mana pengunjung akan menemukan ratusan megalith kuno yang
digunakan penduduk setempat untuk mengadakan upacara pemakaman. Ada 114
megalith di sini dan megalith tertinggi tercatat setinggi sekitar 7 meter.
Untuk
menikmati keindahan kebudayaan purba tersebut, wisatawan cukup membayar tiket
masuk sebesar Rp 10.000 per orang. Situs purbakala Bori Parinding merupakan
kawasan kuburan batu dan rante yakni lapangan rumput yang khusus digunakan
untuk upacara penguburan.
Batu Menhir tersebut didirikan untuk
menghormati pemuka adat atau keluarga bangsawan yang meninggal. Konon, bebatuan
menhir ini ada yang berusia hingga ratusan tahun.
6.
Baby
Grave Kalimbuang Bori'
Baby Grave di Kalimbuang cuma terdapat 1. bayi
yang meninggal dan dimakamkan di pohon syaratnya berusia di bawah 6 bulan,
belum tumbuh gigi susu, belum bisa jalan, dan masih menyusui. maka akan
dimakamkan di salah satu pohon yang mengeluarkan getah berwarna putih seperti
air susu, pemakaman bayi pada sebatang pohon ini dalam bahasa Toraja disebut
Passilliran dan hanya dilakukan oleh masyarakat Toraja yang menganut Aluk
Todolo (kepercayaan terhadap leluhur).
Pohon taraa' sengaja dipilih sebagai tempat
menguburkan bayi karena memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti
air susu ibu (ASI). Dengan menguburkan bayi di pohon taraa', orang Toraja
menganggap bayi tersebut dikembalikan ke rahim ibunya.

1.6 Gambar salah satu pohon tempat bayi di makamkan
7.
Papa Batu
Tongkonan batu ini, -terkenal dengan papa’ batu oleh masyarakat setempat-, berada di
desa Banga’ , kecamatan Rembon, Kabupaten Tana Toraja. Papa’ batu ini
adalah satu-satunya tongkonan yang memiliki atap dari batu. Rumah adat yang
dipercaya telah berumur 700 tahun ini, diwariskan turun temurun kepada
keturunan pemiliknya. Badan dan rangka atap, ditopang oleh 55 buah tiang kayu
pilihan. Atapnya yang unik, terbuat dari batu pahatan berbetuk segiempat,
dengan dua lubang kecil di sisi atas, yang berfungsi untuk mengikatkan papan
batu tersebut pada rangka atap. Untuk mengikatnya, “hanya” diperlukan rotan
yang kuat.

1.7. Gambar
Rumah tongkonan dengan atap batu
Orang-orang tua dahulu tidak mengenal alat
ukur yang jelas seperti penggaris. Jadi mereka memahat batu itu selebar
kira-kira tiga jengkal orang dewasa, dengan tebal sekitar 5cm. Konon,
setiap atap batu itu berbobot 10 kilogram. Jumlah atap batu ini sekitar
1000 keping. Jadi kira-kira, beratnya 10 ton.
Di bagian atas atap, tempat pertemuan atap
dari kedua sisi, ditutup dengan bambu dan daun nipah, supaya air hujan tidak
merembes masuk. Dinding tongkonan ini terbuat dari dinding berukir khas Toraja
dan berlantaikan papan kayu. Tongkonan batu ini disakralkan oleh masyarakat
sekitarnya. Artinya, tidak boleh orang masuk tongkonan ini secara sembarangan.
Selain keluarga dan kerabat, orang lain (tamu/pengunjung) harus mengetuk
dinding di sisi pintu tongkonan ini sebanyak tiga kali sebelum memasukinya.
8.
Ke'te' Kesu
Kete
Kesu merupakan satu dari sekian banyak lokasi wisata di Kabupaten Toraja Utara
yang cukup menarik minat turis manca negara maupun domestik. Setiap wisatawan
yang ke Toraja, akan menyempatkan diri berkunjung ke objek wisata yang masih
menyimpan panorama kepurbakalaan berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia
sekitar 500 tahun bahkan lebih tua lagi. Berusia lebih dari 400 tahun. Konon,
kondisinya tetap seperti 400 tahun lalu. Kete Kesu adalah kompleks tongkonan
(rumah tradisional Toraja) yang paling populer dan paling indah di Toraja.

1.8 Gambar Rumah
tongkonan di Ke'te' Kesu
Kete
Kesu terletak di kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan
Sanggalangi, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Indonesia. Berada sekitar empat
kilometer sebelah selatan kota Rantepao atau 14 kilometer sebelah utara Makale.
Sebagai tempat wisata, Kete Kesu cukup lengkap, terutama bagi yang hendak
memotret kehidupan komunal tradisional orang Toraja. Kete Kesu adalah sebuah
area di mana beberapa tongkonan berdiri berjajar, dilengkapi dengan lumbung
padi (alang sura), area upacara pemakaman (rante), dan tempat pertemuan adat.
Tongkonan-tongkonan
lengkap dengan berbagai ornamen seperti ukiran khas Toraja dan tanduk kerbau
yang disusun di muka. Semakin banyak dan semakin tinggi tanduk yang tersusun menandakan
semakin tinggi derajat sosial penghuninya. Di dalam kompleks Kete Kesu ada juga
museum yang menyimpan berbagai artefak kuno.
Sementara
di sekitar kompleks Kete Kesu ada liang (pekuburan tradisional) berupa
lubang-lubang pada batu cadas. Ada pula panorama persawahan yang indah
menghampar. Dengan itu semua Kete Kesu adalah sebuah poros di mana masyarakat
hidup, menentukan pranata, menjalani kehidupan, dan memenuhi berbagai
kebutuhan.
Tongkonan
tersebut didirikan oleh Puang Ri Kesu dan diwariskan secara turun temurun
kepada kekerabatannya. Turunan Puang Ri Kesu masih hidup sekarang. Kompleks itu
menjadi cagar budaya, tetap digunakan sebagai ajang kegiatan adat tapi tidak
ditinggali. Kete Kesu adalah potret kebudayaan megalitik di Tana Toraja yang paling
lengkap.
Berbagai
souvenir dijajakan penduduk di sekitar kompleks tongkonan itu. Ada nampan,
tatakan gelas, gelang, kalung, patung, hiasan dinding, dan lukisan. Semuanya
bermotif ukiran Toraja karya tangan mereka. Tatakan gelas dijual Rp 1.000, nampan
Rp 20.000 Rp 25.000, sedangkan lukisan yang diukir bisa jutaan rupiah.
Kete’
Kesu adalah salah satu tujuan wisata paling populer di Toraja. Kete’ Kesu
berarti “pusat kegiatan”. Sebutan itu sesuai dengan apa yang bisa ditemui di
sana, yaitu adanya perkampungan, tempat kerajinan ukiran, dan kuburan. Pusat
kegiatan adalah deretan rumah adat yang disebut “tongkonan”, berasal dari kata
“tongkon” yang berarti “duduk bersama-sama”. Deretan tongkonan ini (sebagian
masih dihuni), berhadapan dengan deretan lumbung padi yang disebut “alang”.
Di
Kete’ Kesu juga terdapat pengukir-pengukir yang handal membuat ukiran untuk
rumah adat, hiasan dinding, souvenir, dan tau-tau (patung untuk menghormati
orang meninggal yang dikuburkan). Di Kete’ Kesu juga terdapat dua jenis
kuburan, yaitu kuburan di bukit batu dan kuburan yang berupa bangunan. Kuburan
di bukit batu ini sudah sangat tua. Tumpukan “erong” (peti mati) sudah banyak
yang lapuk, dan tulang-tulang berserakan di alam terbuka.
9.
Baby
Grave Kambira
Desa Kambira terletak di Kecamatan Sangalla, sekitar 20
kilometer dari Rantepao, ibu kota Kabupaten Tana Toraja. Di tempat ini, ada
kompleks kuburan bayi yang disebut Passiliran, dan kini menjadi salah satu
obyek wisata yang sering dikunjungi.

1.9 Gambar salah
satu pohon di Kambira tempat bayi di kuburkan
Hanya bayi yang meninggal dan belum tumbuh gigi yang
dikuburkan di sini, tepatnya di dalam sebatang pohon Tarra. Bayi yang belum
memiliki gigi dianggap masih suci. Sementara dipilihnya pohon Tarra sebagai
kuburan bayi karena jenis pohon ini memiliki banyak getah yang dianggap sebagai
pengganti air susu ibu. Dengan menguburkan bayi di dalam pohon Tarra seolah
mengembalikan bayi tersebut ke dalam rahim ibunya. Terselip harapan, bahwa
dengan mengembalikan bayi ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang
lahir kemudian. Jenazah bayi diletakkan dalam posisi berdiri dengan anggapan
bayi juga akan tumbuh di dalam pohon.
Pohon Tarra
yang menjadi kuburan bayi ini memiliki diameter sekitar 80 – 100 centimeter.
Batangnya dilubangi sedemikian rupa agar jenazah bayi bisa dimasukkan dalam
posisi berdiri, kemudian lubang tersebut akan ditutup dengan ijuk pohon Enau.
Jenazah bayi ditempatkan menghadap ke arah tempat tinggal keluarganya yang
berduka.
Posisi
lubang penempatan jenazah bayi di pohon ini disesuaikan dengan stratasosialnya.
Semakin tinggi posisi lubang, menandakan semakin tinggi juga kasta keluarganya.
Cara pemakaman seperti ini hanya dilakukan oleh orang Toraja pengikut Aluk
Todolo (kepercayaan kepada leluhur). Upacara pemakamannya juga sangat
sederhana, dan bayi yang dikuburkan tidak dibungkus dengan apapun, sama seperti
bayi yang masih berada di rahim ibunya.
Setelah
puluhan tahun, lubang pada Pohon Tarra akan tertutup sendiri dan
jenazah-jenazah bayi itu akan tetap bersemayam di sana. Dari jauh, pohon ini
terlihat seperti penuh dengan tambalan-tambalan berbentuk kotak berwarna hitam.
Cara menguburkan bayi seperti ini sudah lama tidak dilaksanakan lagi. Namun,
pohon Tarra yang buahnya mirip buah sukun ini masih tetap tegak berdiri dan
mempunyai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Desa
Kambira bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi atau bemo dari Makale
atau Rantepao. Lokasi pekuburan ini dikelola oleh masyarakat setempat, dan
wisatawan yang datang berkunjung akan diminta membayar Rp 5.000 per orang untuk
biaya pemeliharaan.
10. Objek Wisata Suaya
Suaya adalah
kuburan Raja-raja Sangalla. Kuburan ini berada di satu sisi dinding bukit cadas
yang dipahat dan dibentuk kantung-kantung. Patung-patung (tau-tau) para raja
dan keluarga raja diberi pakaian seperti pakaian saat mereka hidup dulu.
Lokasi ObyekSitus pemakaman gua Suaya terletak 23 kilometer di sebelah selatan kota Rantepao atau lima kilometer sebelah barat kota Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Lokasi ObyekSitus pemakaman gua Suaya terletak 23 kilometer di sebelah selatan kota Rantepao atau lima kilometer sebelah barat kota Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia.
1.10 Gambar
dinding batu tempat pemakaman raja-raja di Suaya
Gua-gua itu
terletak cukup tinggi dari permukaan tanah. Sebagai tempat bersemayamnya raja,
masyarakat sekitar telah menjadikannya tempat ziarah rutin. Sebagaimana tradisi
mereka yang sangat menghormati orang-orang besar dan para leluhur. Tersedia
tangga batu yang memudahkan wisatawan untuk melihat-lihat ke dalamnya.
Warga sekitar menyebutkan, tangga batu itu sudah ada sejak raja-raja itu masih hidup. Digunakan oleh para raja Sangalla untuk menyendiri dan melakukan semacam pertapaan. Banyak peninggalan para raja, termasuk pusaka-pusaka. Karena itu, pemerintah setempat berencana membangun sebuah museum untuk menyimpannya. Suaya dapat diakses dari Rantepao maupun Makale dengan kendaraan pribadi atau fasilitas transportasi hotel.
Warga sekitar menyebutkan, tangga batu itu sudah ada sejak raja-raja itu masih hidup. Digunakan oleh para raja Sangalla untuk menyendiri dan melakukan semacam pertapaan. Banyak peninggalan para raja, termasuk pusaka-pusaka. Karena itu, pemerintah setempat berencana membangun sebuah museum untuk menyimpannya. Suaya dapat diakses dari Rantepao maupun Makale dengan kendaraan pribadi atau fasilitas transportasi hotel.
Tarif
Untuk masuk
lokasi situs ini, wisatawan dikenai biaya sebesar Rp 5.000 per orang sebagai
kontribusi untuk perawatan.
- PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di pasar tersebut
ternyata harga babi cukup tinggi begitu pun dengan harga kerbau. Harga babi
yang paling rendah mencapai Rp.650.000,00 itu pun jenis babi yang kecil
sedangkan harga babi yang paling tinggi biasanya mencapai Rp 3.000.000,00.
Penjualan babi mahal atau murahnya tergantung dari ukuran, dan warna kulit
babi. Semakin besar ukuran babi maka harga penjualan semakin tinggi pula dan
semakin hitam warna kulit babi maka harga penjualan juga terbilang sangat tinggi.
Sedangkan untuk penjualan Kerbau,
harga penjualan tergantung dari Janis kerbau tersebut. Kerbau memiliki lima
jenis yaitu Kerbau Bango, Kerbau Saleko, Kerbau Hitam, Kerbau . Harga penjualan
kerbau yang paling mahal yaitu Kerbau Saleko dan biasa harga penjualannya
mencapai Rp 750.000.000,00 karena memiliki warna kulit yang belang-belang serta
memiliki bola mata yang bercincin. Dan memilki arti tersendiri bagi kepercayaan
orang-orang di Tana Toraja. Dan harga terendah biasanya mencapai Rp 30.000.000,00
itu pun jenis Kerbau Hitam. Tetapi harga penjualan Kerbau biasa juga di lihat
dari ukuran Kerbau tersebut makin besar Kerbau maka harga penjualannya juga
tinggi begitupun sebaliknya. Hanya saja kebanyakan harga penjualan dilihat dari
jenis kerbau tersebut.
Pembahasan dalam praktek lapang ini
kami mencoba mengkaji hal-hal yang substansial dan membandingkan ciri pembeda
setiap loasisehingga memunculkan hal-hal yang bersifatkhas disetiap lokasi.
Terdapat
2 tongkonan yang kami kunjungi dalam
kesempatan ini yaitu tongkonan Kete’kesu’ dan Tongkonan Pallawa. Jika ditinjau
dari segi umur tongkonan Pallawa lebih dulu di bangun di bandingkan kete’kesu.
Hal ini teergambar jelas dari tanduk kerbau yang terdapat didepan bangunan,
jika tanduk kerbau menandakan banyaknya dilakukan upacara kematian maka
persepsi kami benar. Fakta kedua yang menyebabkan kami menyimpulkan Pallawa
lebih tua adalah di renovasinya beberapa tongkonan di Pallaawa, sedangkan
bangunan yang belum di renovasi telah tampak tua dann mulaimelapuk. Hal
tersebut tentunya menandakan keaslian dan tuanya tongkonan tersebut.
Tongkonan
kete’ kesu dikatakan lebih muda karena
lebih maju dan modern. Maju dan modern disebabkan karena liang yang
dimilikinya lebihbervariasidan menyerupai bentuk gong, yang berarti telah
menujukkan kemajuan leluhurnya dalam berfikir.
Dalam
adat masyarakat toraja yang menganut aluk tudolok mengenal system pemakaman
berdasarkan kasta. Mewah dan tinggiinya tempat pemakaman menandakan tingginya
strata social mereka. Strata tertinggi masyarakat Toraja adalah masyarakat yang berasal Tanah
bulang. Masyarakat dengan tanah bulang
menggunakan liang Patane dan Liang Erong yang memiliki karakteristik unik dan
terkesan mewahkarena tlah mengikuti perkembAangan zaman berupa ukiran-ukiran
unik yang memilki makna khas. Liangpatene dan Erongbanyak ditemukan di ket’
kesu’.
Perkuburan alam londa ditandaidengan liang perkuburan alam. Perkuburan ini menggunakan erong / peti.
Strata dapat dilihateti dari tinggi renahnya letak erong seseorang. Memang
ketinggian tempat menunjukkan tingginya
derajat seseorang, namun jika di kaji secara nalar hal tersebut dilakukan agar harta benda
berharga yang di Bawa mayat tersebut tidak dapat di jamah manusi
Strata
social yang kedua adalah masyarakat tanah bassi. Masyarakat tanah bassi di temukan di Lemo dengan bentang
lahan vulkanik, liang pa’ini diperkirakan muncul ketika masyarakat mengenal
besi/ bassi. masyarakat ini menyediakan apa yangdisediakan oleh alam dengankemsmpuan
yang mereka miliki. Pada perkuburan iang pa’ inidi temukan kuburan bersalib.
Hal itu menandakan pemilik liang pa tersebut bukan penganut aluk tudolok asli.
Karena kepercayaan aluktudolok tidak bosadisamakan dengan agama apapun bak itu
Kristen maupun hindu.
Perkuburan
bayi/ baby gravemerupakan peerkuburan yang khusus di buat untuk bayo yang baru
meninggal dan belum memiliki gigi. Bberapa filosofis dari perkuburan ini adalah
pelaksanaannya dilakukan di Pohon Tarra denga alasan pohon Tarra merupakan
pohon yang suci karena memiliki getah putih. Sesuci bayi yang meninggal tanpa
dosa tersebut. Perkuburan bayi ini di buat menghadap berlawanana arah dengan
rumahnya agar tidak meninggalkan kesedihan bagi orang tua yang ditinggalkan.
Simbuang
Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya
diadakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong
sekurang-kurangnya 24 ekor).terdapat 2 simbuang batu yang dikunjungi yaitu
simbuang batu Pallawa yang berumur lebih tua ditandai dengan batu yang masih
asli dan bertekstur kasar, serta ukuran yang sederhana. Sedangkan simbuang batu
bori parinding di buat pada zaman megalitikum(zaman Batu besar) terlihat telah
mengalami beberapa kemajuan dilihat dari bentuk dan tekstru batu yang telah
mengalami perubahan.
BAB V
PENUTUP
- Kesimpulan
Tana Toraja
adalah salah satu tempat konservasi peradaban budaya PROTO MELAYU AUSTRONESIA
yang masih terawat hingga kini. Kebudayaan adat istiadat, seni musik, seni
tari, seni sastra lisan, bahasa, rumah, ukiran, tenunan dan kuliner yang masih
sangat Tradisional, membuat Pemerintah Indonesia mengupayakan agar Tana Toraja
bisa dikenal di dunia Internasional, salah satunya adalah mencalonkan Tana
Toraja ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2009.
- Saran
Adapun saran
yang bisa menjadi indikator untuk titik temu dari kebenaran yang sebenarnya adalah
:
Pemerintah sebaiknya lebih
memperhatikan kelestarian budayanya, agar budaya-budaya itu masih tetap selalu
ada tidak hilang dari masyarakat Tana toraja.
Meningkatkan
kemampuan penduduk dalam mengelolah sarana pariwisata yang ada sehingga dapat
menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan penduduk yang memadai
DAFTAR PUSTAKA
Tim Indonesia Exploride. 2012. Baby Grave.
http//www.IndonesiaKaya.com/2012/baby-grave.html.
Diakses pada tanggal 23
Desember 2015.