Tuesday, December 16, 2014

Teori Tektonik Lempeng

Teori Tektonika Lempeng
Teori Tektonika Lempeng (bahasa Inggris: Plate Tectonics) adalah teori dalam bidang Geologi yang dikembangkan untuk memberi penjelasan terhadap adanya bukti-bukti pergerakan skala besar yang dilakukan oleh litosfer (kerak bumi). Teori ini telah mencakup dan juga menggantikan Teori Pergeseran Benua yang lebih dahulu dikemukakan pada paruh pertama abad ke-20 dan konsep seafloor spreadingyang dikembangkan pada tahun 1960-an.
http://saripedia.files.wordpress.com/2010/10/350px-plates_tect2_id-svg.png?w=570
Lempeng-lempeng tektonik di bumi barulah dipetakan pada paruh kedua abad ke-20.
Bagian terluar dari interior bumi terbentuk dari dua lapisan. Di bagian atas terdapat litosfer yang terdiri atas kerak dan bagian teratas mantel bumi yang kaku dan padat. Di bawah lapisan litosfer terdapat astenosfer yang berbentuk padat tetapi bisa mengalir seperti cairan dengan sangat lambat dan dalam skala waktu geologis yang sangat lama karena viskositas dan kekuatan geser (shear strength) yang rendah. Lebih dalam lagi, bagian mantel di bawah astenosfer sifatnya menjadi lebih kaku lagi. Penyebabnya bukanlah suhu yang lebih dingin, melainkan tekanan yang tinggi.
Lapisan litosfer dibagi menjadi lempeng-lempeng tektonik (tectonic plates). Di bumi, terdapat tujuh lempeng utama dan banyak lempeng-lempeng yang lebih kecil. Lempeng-lempeng litosfer ini menumpang di atas astenosfer. Mereka bergerak relatif satu dengan yang lainnya di batas-batas lempeng, baik divergen (menjauh), konvergen (bertumbukan), ataupun transform (menyamping). Gempa bumi, aktivitas vulkanik, pembentukan gunung, dan pembentukan palung samudera semuanya umumnya terjadi di daerah sepanjang batas lempeng. Pergerakan lateral lempeng lazimnya berkecepatan 50-100 mm/a. [1]
I. PERKEMBANGAN TEORI
http://saripedia.files.wordpress.com/2010/10/375px-tectonic_plates_boundaries_detailed-en-svg.png?w=570
Peta dengan detail yang menunjukkan lempeng-lempeng tektonik dan arah vektor gerakannya
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, geolog berasumsi bahwa kenampakan-kenampakan utama bumi berkedudukan tetap. Kebanyakan kenampakan geologis seperti pegunungan bisa dijelaskan dengan pergerakan vertikal kerak seperti dijelaskan dalam teori geosinklin. Sejak tahun 1596, telah diamati bahwa pantai Samudera Atlantik yang berhadap-hadapan antara benua Afrika dan Eropa dengan Amerika Utara dan Amerika Selatan memiliki kemiripan bentuk dan nampaknya pernah menjadi satu. Ketepatan ini akan semakin jelas jika kita melihat tepi-tepi dari paparan benua di sana.[2] Sejak saat itu banyak teori telah dikemukakan untuk menjelaskan hal ini, tetapi semuanya menemui jalan buntu karena asumsi bahwa bumi adalah sepenuhnya padat menyulitkan penemuan penjelasan yang sesuai.[3]
Penemuan radium dan sifat-sifat pemanasnya pada tahun 1896 mendorong pengkajian ulang umur bumi,[4]karena sebelumnya perkiraan didapatkan dari laju pendinginannya dan dengan asumsi permukaan bumi beradiasi seperti benda hitam.[5] Dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa bahkan jika pada awalnya bumi adalah sebuah benda yang merah-pijar, suhu Bumi akan menurun menjadi seperti sekarang dalam beberapa puluh juta tahun. Dengan adanya sumber panas yang baru ditemukan ini maka para ilmuwan menganggap masuk akal bahwa Bumi sebenarnya jauh lebih tua dan intinya masih cukup panas untuk berada dalam keadaan cair.
Teori Tektonik Lempeng berasal dari Hipotesis Pergeseran Benua (continental drift) yang dikemukakanAlfred Wegener tahun 1912.[6] dan dikembangkan lagi dalam bukunya The Origin of Continents and Oceans terbitan tahun 1915. Ia mengemukakan bahwa benua-benua yang sekarang ada dulu adalah satu bentang muka yang bergerak menjauh sehingga melepaskan benua-benua tersebut dari inti bumi seperti ‘bongkahan es’ dari granit yang bermassa jenis rendah yang mengambang di atas lautan basal yang lebih padat.[7][8] Namun, tanpa adanya bukti terperinci dan perhitungan gaya-gaya yang dilibatkan, teori ini dipinggirkan. Mungkin saja bumi memiliki kerak yang padat dan inti yang cair, tetapi tampaknya tetap saja tidak mungkin bahwa bagian-bagian kerak tersebut dapat bergerak-gerak. Di kemudian hari, dibuktikanlah teori yang dikemukakan geolog Inggris Arthur Holmes tahun 1920 bahwa tautan bagian-bagian kerak ini kemungkinan ada di bawah laut. Terbukti juga teorinya bahwa arus konveksi di dalam mantel bumi adalah kekuatan penggeraknya.[9][10][3]
Bukti pertama bahwa lempeng-lempeng itu memang mengalami pergerakan didapatkan dari penemuan perbedaan arah medan magnet dalam batuan-batuan yang berbeda usianya. Penemuan ini dinyatakan pertama kali pada sebuah simposium di Tasmania tahun 1956. Mula-mula, penemuan ini dimasukkan ke dalam teori ekspansi bumi [11], namun selanjutnya justeru lebih mengarah ke pengembangan teori tektonik lempeng yang menjelaskan pemekaran (spreading) sebagai konsekuensi pergerakan vertikal(upwelling) batuan, tetapi menghindarkan keharusan adanya bumi yang ukurannya terus membesar atauberekspansi (expanding earth) dengan memasukkan zona subduksi/hunjaman (subduction zone), dansesar translasi (translation fault). Pada waktu itulah teori tektonik lempeng berubah dari sebuah teori yang radikal menjadi teori yang umum dipakai dan kemudian diterima secara luas di kalangan ilmuwan. Penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara seafloor spreading dan balikan medan magnet bumi (geomagnetic reversal) oleh geolog Harry Hammond Hess dan oseanograf Ron G. Mason[12][13][14][15]menunjukkan dengan tepat mekanisme yang menjelaskan pergerakan vertikal batuan yang baru.
Seiring dengan diterimanya anomali magnetik bumi yang ditunjukkan dengan lajur-lajur sejajar yang simetris dengan magnetisasi yang sama di dasar laut pada kedua sisi mid-oceanic ridge, tektonik lempeng menjadi diterima secara luas. Kemajuan pesat dalam teknik pencitraan seismik mula-mula di dalam dan sekitar zona Wadati-Benioff dan beragam observasi geologis lainnya tak lama kemudian mengukuhkan tektonik lempeng sebagai teori yang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam segi penjelasan dan prediksi.
Penelitian tentang dasar laut dalam, sebuah cabang geologi kelautan yang berkembang pesat pada tahun 1960-an memegang peranan penting dalam pengembangan teori ini. Sejalan dengan itu, teori tektonik lempeng juga dikembangkan pada akhir 1960-an dan telah diterima secara cukup universal di semua disiplin ilmu, sekaligus juga membaharui dunia ilmu bumi dengan memberi penjelasan bagi berbagai macam fenomena geologis dan juga implikasinya di dalam bidang lain seperti paleogeografi dan paleobiologi
II. PRINSIP-PRINSIP UTAMA
Bagian luar interior bumi dibagi menjadi litosfer dan astenosfer berdasarkan perbedaan mekanis dan cara terjadinya perpindahan panas. Litosfer lebih dingin dan kaku, sedangkan astenosfer lebih panas dan secara mekanik lemah. Selain itu, litosfer kehilangan panasnya melalui proses konduksi, sedangkan astenosfer juga memindahkan panas melalui konveksi dan memiliki gradien suhu yang hampir adiabatik. Pembagian ini sangat berbeda dengan pembagian bumi secara kimia menjadi inti, mantel, dan kerak. Litosfer sendiri mencakup kerak dan juga sebagian dari mantel. Suatu bagian mantel bisa saja menjadi bagian dari litosfer atau astenosfer pada waktu yang berbeda, tergantung dari suhu, tekanan, dan kekuatan gesernya. Prinsip kunci tektonik lempeng adalah bahwa litosfer terpisah menjadi lempeng-lempeng tektonik yang berbeda-beda. Lempeng ini bergerak menumpang di atas astenosfer yang mempunyai viskoelastisitas sehingga bersifat seperti fluida. Pergerakan lempeng biasanya bisa mencapai 10-40 mm/a (secepat pertumbuhan kuku jari) seperti di Mid-Atlantic Ridge, ataupun mencapai 160 mm/a (secepat pertumbuhan rambut) seperti di Lempeng Nazca.[16][17] Lempeng-lempeng ini tebalnya sekitar 100 km dan terdiri atas mantel litosferik yang di atasnya dilapisi dengan hamparan salah satu dari dua jenis material kerak. Yang pertama adalah kerak samudera atau yang sering disebut dengan “sima”, gabungan dari silikon dan magnesium. Jenis yang kedua yaitu kerak benua yang sering disebut “sial”, gabungan dari silikon dan aluminium. Kedua jenis kerak ini berbeda dari segi ketebalan di mana kerak benua memiliki ketebalan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kerak samudera. Ketebalan kerak benua mencapai 30-50 km sedangkan kerak samudera hanya 5-10 km.
Dua lempeng akan bertemu di sepanjang batas lempeng (plate boundary), yaitu daerah di mana aktivitas geologis umumnya terjadi seperti gempa bumi dan pembentukan kenampakan topografis seperti gunung, gunung berapi, dan palung samudera. Kebanyakan gunung berapi yang aktif di dunia berada di atas batas lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) di Lempeng Pasifik yang paling aktif dan dikenal luas.
Lempeng tektonik bisa merupakan kerak benua atau samudera, tetapi biasanya satu lempeng terdiri atas keduanya. Misalnya, Lempeng Afrika mencakup benua itu sendiri dan sebagian dasar Samudera Atlantik dan Hindia. Perbedaan antara kerak benua dan samudera ialah berdasarkan kepadatan material pembentuknya. Kerak samudera lebih padat daripada kerak benua dikarenakan perbedaan perbandingan jumlah berbagai elemen, khususnya silikon. Kerak samudera lebih padat karena komposisinya yang mengandung lebih sedikit silikon dan lebih banyak materi yang berat. Dalam hal ini, kerak samudera dikatakan lebih bersifat mafik ketimbang felsik.[18] Maka, kerak samudera umumnya berada di bawah permukaan laut seperti sebagian besar Lempeng Pasifik, sedangkan kerak benua timbul ke atas permukaan laut, mengikuti sebuah prinsip yang dikenal dengan isostasi.
III. JENIS-JENIS BATAS LEMPENG
http://saripedia.files.wordpress.com/2010/10/350px-tectonic_plate_boundaries.png?w=570
Tiga jenis batas lempeng (plate boundary).
Ada tiga jenis batas lempeng yang berbeda dari cara lempengan tersebut bergerak relatif terhadap satu sama lain. Tiga jenis ini masing-masing berhubungan dengan fenomena yang berbeda di permukaan. Tiga jenis batas lempeng tersebut adalah:
1. Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar transform (transform fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang berlawanan dengan pengamat) ataupun dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan dengan pengamat). Contoh sesar jenis ini adalah Sesar San Andreas di California.
2. Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries) terjadi ketika dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge dan zona retakan (rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen
3. Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries) terjadi jika dua lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona subduksi jika salah satu lempeng bergerak di bawah yang lain, atau tabrakan benua (continental collision) jika kedua lempeng mengandung kerak benua.
Palung laut yang dalam biasanya berada di zona subduksi, di mana potongan lempeng yang terhunjam mengandung banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan air ini dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan menyebabkan pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh kasus ini dapat kita lihat di Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan busur pulau Jepang (Japanese island arc).
IV. KEKUATAN PENGGERAK PERGERAKAN LEMPENG
Pergerakan lempeng tektonik bisa terjadi karena kepadatan relatif litosfer samudera dan karakter astenosfer yang relatif lemah. Pelepasan panas dari mantel telah didapati sebagai sumber asli dari energi yang menggerakkan tektonik lempeng. Pandangan yang disetujui sekarang, meskipun masih cukup diperdebatkan, adalah bahwa kelebihan kepadatan litosfer samudera yang membuatnya menyusup ke bawah di zona subduksi adalah sumber terkuat pergerakan lempeng. Pada waktu pembentukannya di mid ocean ridge, litosfer samudera pada mulanya memiliki kepadatan yang lebih rendah dari astenosfer di sekitarnya, tetapi kepadatan ini meningkat seiring dengan penuaan karena terjadinya pendinginan dan penebalan. Besarnya kepadatan litosfer yang lama relatif terhadap astenosfer di bawahnya memungkinkan terjadinya penyusupan ke mantel yang dalam di zona subduksi sehingga menjadi sumber sebagian besar kekuatan penggerak pergerakan lempeng. Kelemahan astenosfer memungkinkan lempeng untuk bergerak secara mudah menuju ke arah zona subduksi [19] Meskipun subduksi dipercaya sebagai kekuatan terkuat penggerak pergerakan lempeng, masih ada gaya penggerak lain yang dibuktikan dengan adanya lempeng seperti lempeng Amerika Utara, juga lempeng Eurasia yang bergerak tetapi tidak mengalami subduksi di manapun. Sumber penggerak ini masih menjadi topik penelitian intensif dan diskusi di kalangan ilmuwan ilmu bumi. Pencitraan dua dan tiga dimensi interior bumi (tomografi seismik) menunjukkan adanya distribusi kepadatan yang heterogen secara lateral di seluruh mantel. Variasi dalam kepadatan ini bisa bersifat material (dari kimia batuan), mineral (dari variasi struktur mineral), atau termal (melalui ekspansi dan kontraksi termal dari energi panas). Manifestasi dari keheterogenan kepadatan secara lateral adalah konveksi mantel dari gaya apung (buoyancy forces) [20] Bagaimana konveksi mantel berhubungan secara langsung dan tidak dengan pergerakan planet masih menjadi bidang yang sedang dipelajari dan dibincangkan dalam geodinamika. Dengan satu atau lain cara, energi ini harus dipindahkan ke litosfer supaya lempeng tektonik bisa bergerak. Ada dua jenis gaya yang utama dalam pengaruhnya ke pergerakan planet, yaitu friksi dan gravitasi.
4.1 Gaya Gesek
Basal drag
Arus konveksi berskala besar di mantel atas disalurkan melalui astenosfer, sehingga pergerakan didorong oleh gesekan antara astenosfer dan litosfer.
Slab suction
Arus konveksi lokal memberikan tarikan ke bawah pada lempeng di zona subduksi di palung samudera.Penyerotan lempengan (
slab suction) ini bisa terjadi dalam kondisi geodinamik di mana tarikan basal terus bekerja pada lempeng ini pada saat ia masuk ke dalam mantel, meskipun sebetulnya tarikan lebih banyak bekerja pada kedua sisi lempengan, atas dan bawah
4.2 Gravitasi
Runtuhan gravitasi: Pergerakan lempeng terjadi karena lebih tingginya lempeng di oceanic ridge. Litosfer samudera yang dingin menjadi lebih padat daripada mantel panas yang merupakan sumbernya, maka dengan ketebalan yang semakin meningkat lempeng ini tenggelam ke dalam mantel untuk mengkompensasikan beratnya, menghasilkan sedikit inklinasi lateral proporsional dengan jarak dari sumbu ini. Dalam teks-teks geologi pada pendidikan dasar, proses ini sering disebut sebagai sebuah doronga. Namun, sebenarnya sebutan yang lebih tepat adalah runtuhan karena topografi sebuah lempeng bisa jadi sangat berbeda-beda dan topografi pematang (ridge) yang melakukan pemekaran hanyalah fitur yang paling dominan. Sebagai contoh, pembengkakan litosfer sebelum ia turun ke bawah lempeng yang bersebelahan menghasilkan kenampakan yang bisa mempengaruhi topografi. Lalu, mantel plume yang menekan sisi bawah lempeng tektonik bisa juga mengubah topografi dasar samudera.
Slab-pull (tarikan lempengan)
Pergerakan lempeng sebagian disebabkan juga oleh berat lempeng yang dingin dan padat yang turun ke mantel di palung samudera.[21] Ada bukti yang cukup banyak bahwa konveksi juga terjadi di mantel dengan skala cukup besar. Pergerakan ke atas materi di mid-oceanic ridge mungkin sekali adalah bagian dari konveksi ini. Beberapa model awal Tektonik Lempeng menggambarkan bahwa lempeng-lempeng ini menumpang di atas sel-sel seperti ban berjalan. Namun, kebanyakan ilmuwan sekarang percaya bahwa astenosfer tidaklah cukup kuat untuk secara langsung menyebabkan pergerakan oleh gesekan gaya-gaya itu. Slab pull sendiri sangat mungkin menjadi gaya terbesar yang bekerja pada lempeng. Model yang lebih baru juga memberi peranan yang penting pada penyerotan (
suction) di palung, tetapi lempeng seperti Lempeng Amerika Utara tidak mengalami subduksi di manapun juga, tetapi juga mengalami pergerakan seperti juga Lempeng Afrika, Eurasia, dan Antarktika. Kekuatan penggerak utama untuk pergerakan lempeng dan sumber energinya itu sendiri masih menjadi bahan riset yang sedang berlangsung
4.3 Gaya dari luar
Dalam studi yang dipublikasikan pada edisi Januari-Februari 2006 dari buletin Geological Society of America Bulletin, sebuah tim ilmuwan dari Italia dan Amerika Serikat berpendapat bahwa komponen lempeng yang mengarah ke barat berasal dari rotasi Bumi dan gesekan pasang bulan yang mengikutinya. Mereka berkata karena Bumi berputar ke timur di bawah bulan, gravitasi bulan meskipun sangat kecil menarik lapisan permukaan bumi kembali ke barat. Beberapa juga mengemukakan ide kontroversial bahwa hasil ini mungkin juga menjelaskan mengapa Venus dan Mars tidak memiliki lempeng tektonik, yaitu karena ketiadaan bulan di Venus dan kecilnya ukuran bulan Mars untuk memberi efek seperti pasang di bumi.[22] Pemikiran ini sendiri sebetulnya tidaklah baru. Hal ini sendiri aslinya dikemukakan oleh bapak dari hipotesis ini sendiri, Alfred Wegener, dan kemudian ditentang fisikawan Harold Jeffreys yang menghitung bahwa besarnya gaya gesek oasang yang diperlukan akan dengan cepat membawa rotasi bumi untuk berhenti sejak waktu lama. Banyak lempeng juga bergerak ke utara dan barat, bahkan banyaknya pergerakan ke barat dasar Samudera Pasifik adalah jika dilihat dari sudut pandang pusat pemekaran (spreading) di Samudera Pasifik yang mengarah ke timur. Dikatakan juga bahwa relatif dengan mantel bawah, ada sedikit komponen yang mengarah ke barat pada pergerakan semua lempeng
4.4 Signifikansi relatif masing-masing mekanisme
http://saripedia.files.wordpress.com/2010/10/350px-global_plate_motion_2008-04-17.jpg?w=570
Pergerakan lempeng berdasar pada data satelit GPS NASA JPL. Vektor di sini menunjukkan arah dan magnitudo gerakan.
Vektor yang sebenarnya pada pergerakan sebuah planet harusnya menjadi fungsi semua gaya yang bekerja pada lempeng itu. Namun, masalahnya adalah seberapa besar setiap proses ambil bagian dalam pergerakan setiap lempeng Keragaman kondisi geodinamik dan sifat setiap lempeng seharusnya menghasilkan perbedaan dalam seberapa proses-proses tersebut secara aktif menggerakkan lempeng. satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melihat laju di mana setiap lempeng bergerak dan mempertimbangkan bukti yang ada untuk setiap kekuatan penggerak dari lempeng ini sejauh mungkin. Salah satu hubungan terpenting yang ditemukan adalah bahwa lempeng litosferik yang lengket pada lempeng yang tersubduksi bergerak jauh lebih cepat daripada lempeng yang tidak. Misalnya, Lempeng Pasifik dikelilingi zona subduksi (Ring of Fire) sehingga bergerak jauh lebih cepat daripada lempeng di Atlantik yang lengket pada benua yang berdekatan dan bukan lempeng tersubduksi. Maka, gaya yang berhubungkan dengan lempeng yang bergerak ke bawah (slab pull dan slab suction) adalah kekuatan penggerak yang menentukan pergerakan lempeng kecuali untuk lempeng yang tidak disubduksikan. Walau bagaimanapun juga, kekuatan penggerak pergerakan lempeng itu sendiri masih menjadi bahan perdebatan dan riset para ilmuwan
V. LEMPENG-LEMPENG UTAMA
http://saripedia.files.wordpress.com/2010/10/350px-plate_tectonics_map.gif?w=570
Peta lempeng-lempeng tektonik
Lempeng-lempeng tektonik utama yaitu:
* Lempeng Afrika, meliputi Afrika – Lempeng benua
* Lempeng Antarktika, meliputi Antarktika – Lempeng benua
* Lempeng Australia, meliputi Australia (tergabung dengan Lempeng India antara 50 sampai 55 juta tahun yang lalu)- Lempeng benua
* Lempeng Eurasia, meliputi Asia dan Eropa – Lempeng benua
* Lempeng Amerika Utara, meliputi Amerika Utara dan Siberia timur laut – Lempeng benua
* Lempeng Amerika Selatan, meliputi Amerika Selatan – Lempeng benua
* Lempeng Pasifik, meliputi Samudera Pasifik – Lempeng samudera
Lempeng-lempeng penting lain yang lebih kecil mencakup Lempeng India, Lempeng Arabia, Lempeng Karibia, Lempeng Juan de Fuca, Lempeng Cocos, Lempeng Nazca, Lempeng Filipina, dan Lempeng Scotia.
Pergerakan lempeng telah menyebabkan pembentukan dan pemecahan benua seiring berjalannya waktu, termasuk juga pembentukan superkontinen yang mencakup hampir semua atau semua benua. Superkontinen Rodinia diperkirakan terbentuk 1 miliar tahun yang lalu dan mencakup hampir semua atau semua benua di Bumi dan terpecah menjadi delapan benua sekitar 600 juta tahun yang lalu.Delapan benua ini selanjutnya tersusun kembali menjadi superkontinen lain yang disebut Pangaea yang pada akhirnya juga terpecah menjadi Laurasia (yang menjadi Amerika Utara dan Eurasia), danGondwana (yang menjadi benua sisanya)

Saturday, January 4, 2014

Biologi - Pengamatn Mikroskopis Tumbuhan

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Lengkap Praktikum Biologi Umum dengan Judul “Pengamatan  Mikroskopis” disusun oleh:
Nama               : Andi Teni Rawe
NIM                : 131 5141 009
Kelas               : Geografi / Sains
Kelompok       : Lima (5)
Telah diperiksakan dan dikonsultasikan kepada asisten/koordinator asisten maka dinyatakan diterima


Makassar,     Desember 2013

      Koordinator Asisten                                                                Asisten
                                                                                                       



Rachmayani Ardiasyah,S.Pd                                                Ekaramdahyani
                                                                                                NIM : 1114040030
                                    
Mengetahui,
     Dosen Penanggung Jawab Praktikum




              Alimuddin, S.Si, M.Si
        NIP: 1969 1231199 702 1001





BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Kita ketahui bahwa didunia ini ada makhluk hidup dan tak hidup. Seperti yang diketahui, unit penyusun terkecil mahluk hidup yaitu sel. Tiap sel ini akan bergantung sesuai dengan struktur dan fungsinya yang sama dan membenuk jaringan. Jaringan merupakan tingkatan  kedua setelah sel sebagai penyusun tubuh mahluk hidup.
Organ pada makhluk hidup memiliki peranan yang sangat vital bagi makhluk hidup itu sendiri. Karena jika salah satu jaringan pada makhluk hidup tidak berjalan sesuai dengan fungsinya, maka akan sedikit menganggu organ tubuh penyusun makhluk hidup tersebut dan jika terjadi kerusakan yang sangat parah pada beberapa jaringan penyusunya maka bisa menyebabkan makhluk hidup itu mati.
Jaringan pada hewan tentunya berbeda dengan jaringan pada tumbuhan. Tiap-tiap jaringan tersebut memiliki struktur dan fungsinya masing-masing. Pada hewan dibedakan atas empat jaringan utama, yaitu jaringan epitel, jaringan ikat jaringan otot dan jaringa saraf. Sedangkan pada tumbuhan dapat dibedakan atas jaringan muda (meristem), dan jaringan dewasa yang terdiri dari jaringan epidermis, jaringan parenkim, jaringan pengangkut dan jaringan gabus.
Adapun untuk fungsinya, misalnya jaringan penyokong pada hewan, berfungsi menyokong tubuh, yaitu jaringan tulang. Adapun bagian-bagian dari jaringan tulang ini berbeda dari jaringan penyusun tubuh hewan yang lain. Pada tumbuhan juga demikian sebagai penyokong.
. Terdapat perbedaan-perbedaan antara jaringan hewan dan jaringan tumbuhan baik dari segi struktur maupun sel-sel penyusunnya. Berdasarkan hal tersebut, untuk dapat mengetahui perbedaan-perbedaan antara jaringan tumbuhan dari segi struktur maupun sel-sel penyusunya, maka dilakukan pengamatan mikroskopis jaringan hewan dan tumbuhan.
B.       Tujuan Praktikum
Adapun tujuan yang dari praktikum ini adalah:
1.      Setelah melakukan kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan struktur dan macam-macam jaringan yang menyusun organ-organ tumbuhan.
2.      Setelah melakukan kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan struktur dan macam-macam jaringan yang menyusun organ-organ tubuh tersebut.
C.    Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari percobaan ini adalah :
1.      Kita bisa mengetahui struktur dan macam-macam jaringan yang menyusun organ-organ tumbuhan.
2.      Kita bisa mengetahui struktur dan macam-macam jaringan yang menyusun organ-organ tubuh tersebut.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Jaringan adalah sekumpulan sel yang berkaitan erat satu sama lain serta memiliki struktur dan fungsi yang sama. Ilmu yang mempelajari tentang struktur jaringan disebut histologi. Untuk memebentuk suatu jaringan, sel-sel mengalami spesialisasi dan diferensiasi. Berbagai jaringan tersusun dan terorganisasi dalam bentuk organ (Tim pengajar, 2013).
Jaringan penyusun tubuh tumbuhan dibedakan atas dua bagian yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa. Jaringan meristem adalah jaringan yang masih muda dan selalu aktif membela atau bersifat embrional sedangkan jaringan dewasa adalah jaringan yang tidak dapat lagi berdiferensiasi terdiri dari jaringan pengangkut, jaringan pelindung, jaringan parenkim dan jaringan gabus
(Hamka, 2006).
Jaringan penyusun tubuh tumbuhan tingkat tinggi, dapat  dibedakan atas dua bagian yaitu:
1.  Jaringan muda (meristem atau titik tumbuh)
Jaringan ini terdiri dari sel-sel yang embrional dindongnya tipis,kaya akan plasma vakuolanya kecil-kecil. Sel-sel jaringan ini bila dilihat dari segala arah kurang lebih sama besar. Jaringan meristem berfungsi untuk membelah dan berdiferensiasi menjadi sel –sel jaringan dewasa. Menurut letak dan asal pertumbuhan meristem, jaringan meristem ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
 a. Meristem primer (titik tumbuh primer)
Meristem primer terdapat pada titik tumbuh diujung batang dan akar sehingga    disebut juga titik tumbuh apikal(ujung).
 b. Meristem sekunder (kambium)
Titik tumbuh ini berasal dari sel-sel yang telah dewasa, kemudian mengalami   perubahan fungsi dan membelah untuk menghasilkan sel-sel yang bersifat embrional misalnya kambium dan kambium gabus, pertumbuhan jaringan meristematis cambium tersebut menyebabkan akar dan batang tumbuh membesar.
2. Jaringan dewasa (jaringan tubuh tua )
Sel-sel jaringan dewasa bentuknya lebih besar dari sel-sel meristem,plasmanya lebih sedikit,vakuolanya lebih besar, kadang-kadang sel jaringan dewasa telah mati dan terisi dengan udara atau air serta dinding selnya ,mempunyai pembelaan yang bermacam-macam. Berdasarkan struktur dan fungsi jaringan dewasa di bedakan atas empat yaitu jaringan dewasa (parenkim),jaringan penutup(jaringan pelindung), jaringan pengankut(mekanik), jaringan pengangkutan (Wildan, 1984).
Berdasarkan struktur dan fungsinya, jaringan dewasa dapat dibedakan menjadi empat bagian, yaitu :
1.      Jaringan epidermis merupakan jaringan yang paling luar yang menutup permukaan tubuh tumbuhan, seperti permukaan akar, batang, daun, bunga, buah, maupun biji. Biasanya sel-sel epidermis ini terdiri atas satu sel saja yang tersusun rapat.
2.      Jaringan parenkim merupakan jaringan dasar karena terbentuk dari meristem dasar. Jaringan parenkim yang memiliki klorofil disebut klorenkim. Sesuai bentuknya parenkim dibedakan atas beberapa macam, yaitu parenkim palisade, parenkim bunga karang, parenkim bintang, dan parenkim lipatan
( Kimbal, 1993).
Susunan anatomi jaringan pada tumbuhan :
1.    Akar
Akar merupakan organ tumbuhan yang penting karena berperan sebagai alat pencengkeram pada tanah/penguat dan sebagai alat penyerap air. Akar memiliki bagian pelindung berupa tudung akar yang tidak dimiliki oleh organ lain. Berdasarkan asal terbentuknya, akar dapat dibedakan atas akar primer dan akar adventitif. Akar primer terbentuk dari bagian ujung embrio dan dari perisikel, sedangkan akar adventitif berkembang dari akar yang telah dewasa selain dari perisikel atau keluar dari organ lain seperti dari daun dan batang.
2.    Daun
Tidak hanya sebagai tempat fotosintesis, daun juga berfungsi untuk transpirasi (penguapan air) dan respirasi (pernapasan). Bila kita mengamati preparat irisan melintang daun, maka akan kita jumpai bagian-bagian penyusun struktur anatomi daun yang sesuai dengan fungsi daun tersebut. Daun tersusun atas jaringan epidermis, jaringan parenkim, dan jaringan pengangkut.
3.    Batang
Pada tumbuhan dikotil, berkas pembuluh tersusun dalam suatu lingkaran sehingga korteks terdapat di bagian luar lingkaran dan empulur di bagian dalam lingkaran. Pada tumbuhan dikotil ini, xilem tersusun di bagian dalam lingkaran. Di antara floem dan xilem terdapat kambium yang menyebabkan pertumbuhan sekunder pada tumbuhan dikotil. Kambium merupakan jaringan meristem lateral yang berfungsi dalam pertumbuhan sekunder ( Sobarudin, 2013 )
Jenis jaringan yang dimiliki oleh hewan adalah jaringan epitel, jaringan ikat, jaringan otot dan jaringan saraf. Jaringan epitel tersusun atas beberapa sel yang bentuk dan ukurannya sama terletak dibagian luar dan berfungsi sebagai proteksi dan pembatas dengan jaringan lain. Jaringan epitel terdiri dari sel-sel mandate yang terikat erat jaringan ikat yang ada dibawah oleh lamina besalis atau membran dasar. Lamina besalis merupakan  jaringan ekstraseluler yang  dibagi atas tiga macam yaitu warnanya polos, inti terdapat ditengah merupakan otot tidak sadar, kerjanya teratur,tidak cepat lelah dan reaksi terhadap rangsangan lambat, bentuknya seperti gelondong dan terdapat pada alat pencernaaan (Pratiwi, 2000).
Jaringan otot tersusun atas sel-sel otot yang berfungsi untuk menggerakkan berbagai bagian organ tubuh yang disebabkan kemampuan jaringan otot untuk berkontraksi. Hal ini terjadi karena sel-sel otot mengandung protein kontraksi yang memanjang dan mengandung miofibril atau serabut-serabut halus. Jaringan otot terbagi menjadi tiga yaitu :
1.      Otot polos, yang berbentuk gelondong dan bagian intinya hanya satu dibagian tengah.
2.      Otot lurik, yang memiliki inti lebih dari satu dibagian tepi dan memiliki pita terang dan pita gelap.
3.      Otot jantung, yang memiliki discus interkalalar dan intinya lebih dari satu yang terletak dibagian tengah ( Prawira, 1997 ).
Sistem saraf terdiri atas sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer. Sistem saraf pusat termasuk di dalamnya otak dan sumsum tulang belakang. Sistem saraf perifer terdiri atas kumpula-kumpulan saraf dan ganglia yang tersebar di seluruh tubuh, termasuk saraf kranial dan saraf spinal (Adnan, 2004).
Sistem saraf memiliki dua fungsi yaitu (i) untuk mendeteksi, menganalisa, menggunakan dan menghantarkan semua informasi yang ditimbulkan oleh rangsang sensoris, dan perubahan mekanis dan kimia yang terjadi di lingkungan internal maupun di lingkungan eksternal, dan (ii) untuk mengorganisir dan mengatur, baik secara langsung maupun tidak langsung sebagian terbesar fungsi tubuh, terutama kegiatan motoris, viseral, endokrin dan mental (Pagarra, 2004).
















BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
1.      Waktu praktikum
Hari/Tanggal                     : Selasa, 26 November 2013
Waktu                               : Pukul 13.00-15.50 WITA
2.      Tempat Praktikum             : Green House Biologi FMIPA UNM
B.     Alat dan Bahan
1.      Alat
a.       Mikroskop
b.      Preparat dan deck glass
c.       Lap kasar dan Lap halus
d.      Preparat awetan akar Allium cepa
e.       Preparat awetan otot polos
f.       silet
2.      Bahan
a.       Air
b.      Tomat [daun, batang, dan akar] (Solanum lycopersicum)
c.       Jagung [daun, batang, dan akar] (Zea mays)
C.    Prosedur Kerja
1.      Jaringan tumbuhan
1.1.  Siapkan mikroskop berdasarkan aturan tata cara penggunaannya.
1.2.  Ambil preparat awetan akar, batang, dan daun yan mewakili golongan dikotil dan monokotil.
1.3.  Amati ciri struktur dan letak masing-masing jaringan yang menyusun akar, batang, dan daun tersebut.
1.4.  Gunakan pembesaran obyektif 4x untuk melihat preparat secara keseluruhan, kemudian ganti dengan pembesaran obyektif 10x untuk mengamati bagian jaringan yang lebih jelas.
1.5.  Gambarlah jaringan ketiga organ tersebut secara keseluruhan dan sebutkan bagian-bagiannya.
1.6.  Bandingkan hasil pengamatan Anda dengan gambar berikutnya.
1.7.  Pelajari fungsi masing-masing jaringan yang menyusun organ tumbuhan tersebut.
2.      Jaringan hewan
2.1. Jaringan epitel
2.1.1.      Amati preparat awetan epitel kubus selapis pada medula renalis.
2.1.2.      Gunakan pembesaran obyektif 10x untuk melihat preparat secara keseluruhan kemudian ganti dengan pembesaran obyektif 40x untuk mengamati jaringan yang lebih jelas.
2.1.3.      Perhatikan sel epitel berbentuk kubus dengan inti sel besr yang membulat dan terletak di tengah sel. Gambar dan beri keterangan.
2.1.4.      Bandingkan hasil pengamatan Anda dengan gambar yang ada.
2.2.Jaringan penyokong
2.2.1.      Amati preparat gosok tulang padat pada tulang pipa.
2.2.2.      Gambar dan bei keterangan bagian-bagian yang terlihat.
2.2.3.      Perhatikan strukturnya dari arah luar/tepi adanya:
a.       Periosteum, berupa jaringan padat
b.      Sistem havers yang terdiri atas :
1)      Saluran havers
2)      Lamella havers yang tersusun konsentris mengelilingi saluran havers.
3)      Tiap lamella mengandung esteosit dalam lakuna yang mempunyai kanalakuli.
c.       Endosteum
2.2.4.      Bandingkan hasil pengamataan Anda dengan gambar yang ada.

2.3. Jaringan saraf
2.3.1.      Amati sel purkinje pada preparat awetan otak kecil.
2.3.2.      Gambar dan beri keterangan bagian-bagian yang terlihat.
2.3.3.      Mintalah petunjuk asisten untuk melihat sel-sel yang dimaksud. Pada lapisan ganglion yang terdiri atas selapis sel purkinje berbentuk botol, ini pucat dan besar, nukleolus kecil dan gelap.
2.3.4.      Bandingkan hasil pengamatan Anda dengan gambar yang ada.
2.4.Jaringan daraah
2.4.1.      Amati preparat awetan apusan darah dengan perbesaran kuat.
2.4.2.      Perhatikan dan gambarlah macam-macam sel darah (eritrosit, limfosit, monosit, leukosit neutrofil, dan basofil) yang terdapat dalam darah.
2.4.3.      Bandingkan gambar Anda dengan gambar yang ada.
2.5. Jaringan otot
2.5.1.      Amaati preparat awetan jaringan otot polos, otot lurik, dan otot jantung dengan perbesaran kuat.
2.5.2.      Perhatikan dan gambarlah macam-macam sel otot, bentuk, dan letaak intinya serta arah serabutnya.
2.5.3.      Bandingkan hasil pengamatan Anda dengan gambar yang ada.









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Pengamatan
LEMBAR PENGAMATAN
Akar Jagung (Zea mays)
perbesaran 4x
      Keterangan                      Hasil Pengamatan                    Gambar Pembanding
                
1.      Epidermis
2.      Endodermis
3.      Korteks
4.      Floem
5.      Xylem





Batang Jagung
perbesaran4x
        Keterangan                   Hasil Pengamatan                   Gambar Pembanding
 

1.    Epidermis
2.    Korteks







Daun Jagung
Pembesaran 4x
       Keterangan                    Hasil Pengamatan                   Gambar Pembanding
 

1.    Xylem
2.    Floem
3.    Epidermis
4.    Spons
5.    Stomata
6.    Palisade

                  

LEMBAR PENGAMATAN
Akar Tomat (Solanum lycopersicum)
perbesaran 4x
        Keterangan                     Hasil Pengamatan                  Gambar Pembanding
                
1.    Epidermis
2.    Endodermis
3.    Korteks
4.    Parisikel





Batang Tomat
perbesaran4x
      Keterangan                     Hasil Pengamatan                   Gambar Pembanding
 

1.      Epidermis
2.      Endodermis
3.      korteks






Daun Tomat
Pembesaran 4x
     Keterangan                       Hasil Pengamatan                  Gambar Pembanding
 

1.    Xylem
2.    Floem
3.    Epidermis
4.    Spons
5.    Stomata
6.    palisade








B.     Pembahasan
1.      Jaringan Tumbuhan
      Pada jaringan tumbuhan kami mengamati jaringan akar, batang dan daun yang dimana,
a.       Akar monokotil (Zea mays)
Akar merupakan salah satu bagian dari tumbuhan yang berfungsi menyerap air dan garam-garam mineral dari dalam tanah. Pada beberapa tanaman akar berfungsi menyimpan cadangan makanan.
b.      Batang monokotil (Zea mays)
            Batang merupakan salah satu organ yang memiliki bagian-bagian pokok, yaitu :
1.      Epidermis, sel-selnya sama dengan penyusun epidermis akar yaitu tersusun rapat, tanpa ruang antar sel akan tetapi dinding sel epidermis batang pada umumnya mengalami penebalan dan dilapisi zat gabus yang disebut katikulus sehingga terhindar dari kekeringan.
2.      Korteks, sel-sel penyusunnya sama dengan sel penyusun korteks akar berdinding tipis, susunan selnya tidak beraturan dan terdapat ruang antar sel.
c.       Daun monokotil
Daun terletak di bagian atas tumbuhan dan melekat pada batang. Daun merupakan modifikasi dari batang. Daun merupakan bagian tubuh tumbuhan yangpaling banyak mengandung klorofil sehingga kegiatan fotosintesis paling banyakberlangsung di daun.
1.      Xylem adalah Pembuluh itu meliputi Xylem atau pembuluh kayu berfungsi untuk membawa air.
2.      Epedermis adalah Jaringan yang letaknya paling luar. Jaringan epidermis tersusun atas sel-sel hidup berbentuk pipih selapis yang berderet
3.      Palisade  (jaringan pagar) sel-sel pada jaringan ini terlihat rapat.
4.      Spons( jaringan bunga karang), jaringan bunga karang sel-selnya agak renggang, sehingga masih terdapat ruang-ruang antar sel.
5.      Stomata (mulut daun), yaitu lubang pada lapisan epidermis daun. Sekitar stomata terdapat sel yang berklorofil disebut sel penutup. Stomata berfungsi sebagai tempat masuknya CO2 dan keluarnya O2 sewaktu berfotosintesis. Selai itu stomata juga berfungsi untuk penguapan air
6.      Floem pembuluh lapis/pembuluh kulit kayu membawa hasil fotosintesis berupa larutan organik.
          Pada praktikum yang kami lakukan, kami mendapat pengamatan untuk Akar tanaman monokotil (Zea may) dan dikotil (Solanum lycopersicum). Pada pengamatan Zea mays, yang kami dapatkan adalah jaringan penyusun organnya yaitu untuk pada daun ada palisade, floem, xylem, epidermis, spons dan stomata. Untuk pada batang ada epidermis dan korteks. Dan untuk pada akar ada Epidermis, Endodermis, Korteks, Floem, dan Xylem.
          Untuk pengamatan tanaman monokotil (Solanum lycopersicum) sama dengan dikotil yang kami dapatkan juga penyusun organnya. Untuk akar sendiri ada epidermis, endodermis, korteks, dan parisikel. Untuk daunnya sama dengan apa yang terdapat pada monokotil, jadi jika kita mengetahui fungsinya masing-masing maka kita mendapatkan penyusun organnya seperti yang tampak pada monokotil. Dan untuk batangnya ada korteks dan epidermis.








BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
    Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, jaringan-jaringan yang terdapat pada tanaman monokotil maupun dikotil sudah dapat di bedakan. Dari Jaringan yang menyusun tumbuhan monokotil dan dikotil mulai akar, batang hingga daun ada sedikit persamaan. Tetapi walau begitu tetap ada perbedaan didalamnya.
B.     Saran
    Dalam melaksanaakan praktikum, para praktikan harus tetap fokus dengan pengamatannya, agar hasilnya dapat maksimal nantinya, dan juga tetap berhati-hati dalam menggunakan alat-alat laboran.















DAFTAR PUSTAKA
Adnan.2004. Penuntun Praktikum Struktur dan Perkembangan Hewan I. Jurusan Biologi FMIPA UNM. Makassar.
Hamka,dkk. 2006. Penuntun Praktikum Biologi Umum. Makassar: FMIPA UNM.
Kimball, J.W. 1993. Biologi. Jakarta : Erlangga.
Pagarra,Halifah. 2004. Struktur Hewan. Jurusan Biologi FMIPA UNM. Makassar.
Pratiwi,D. 2000. Jaringan Penyusun Tubuh Tumbuhan. Jakarta: Erlangga
Prawira, Bjoni. 1997. Fisiologi Adaptasi Hewan Tertial Terhadap lingkungan. Jakarta: Dirjen Depdikbud.
Sobarudin,       Arif  http://www.bisosial.com/2013/03/organ-pada-tumbuhan.html ( di akses pada hari Sabtu tanggal 30 Desember 2013 )
Tim pengajar. 2013. Penuntun Praktikum Biologi. Makassar: Penerbit FMIPA UNM.
Wildan, Yatin. 1984. Biologi. .Bandung: Tarsito.



















                                      LAMPIRAN
1.      Bagaimanakah bentuk sel otot polos, dimana letaknya, berapa benyak inti dalam setiap sel?
Jawab : Bentuk otot polos adalah berbentuk gelendong panjang dan lancip. Letaknya jaringan otot polos dalam tubuh vertebrata terdapat pada pembuluh darah, pembuluh limfa, saluran pernapasan., dinding saluran pencernaan, saluran kencing dan kelamin serta lapisan   dermis kulit untuk menghubunngkan epidermis kulit dan akar rambut yang brrfugsimenegakkan rambut. Masing-masing memiliki.suatu inti sel terletak di tengah.
2.      Kumpulan serabut sel otot lurik disebut apa, berapa banyak inti yang tedapat pada serabut tersebut?
Jawab :  kumpalan sel otot lurik disebut fibril, dan banyaknya inti pada setiap serabut banyak.
3.    Apa perbedaan mendasar antara sel otot polos, sel otot lurik, dan otot jantung yang ditemukan?
Jawab :
a.       Otot polos, berbentuk gelendong dengan kedua ujungnya meruncing dan hanya memiliki satu inti sel yang terdapat di tengah.
b.        Otot lurik, bentuknya panjang dan memiliki banyak inti yang terletak di pinggir.
c.         Otot jantung, secara struktur mirip dengan otot lurik tetapi bercabang dan letaknya inti berada di tengah.
4.    Apa yang disebut lamella, lakuna, kanalikuli ?
Jawab :
a.       Lamella adalah endapan garam mineral yang membentuk melingkar dalam tulang.
b.       Lakuna adalah tempat melekatnya oesteosit atau sel tulang dalam matriks tulang.
c.        Kanalikuli adalah saluran-saluran kecil yang menghubungkan antara lakuna yang berisi sitoplasma untuk transpor nutrisi.
5.      Apa fungsi Saaluran Haaves?
Jawab:
 Saluran havers berfungsi untuk cadangan makanan pembentuk tulang atau sebagai tempat pembuluh darah yang memberi makanan pada tulang, saraf dan pembuluh getah bening.